Desakan Trump Agar Iran Kibarkan Bendera Putih Buntut Negosiasi Buntu

Desakan Trump Agar Iran Kibarkan Bendera Putih Buntut Negosiasi Buntu

Haris Fadhil - detikNews
Rabu, 19 Agu 2026 06:00 WIB
Donald Trump. (REUTERS/Daniel Heuer)
Donald Trump. (REUTERS/Daniel Heuer)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak Iran menyerah untuk mengakhiri perang. Desakan itu dibalas ejekan oleh Iran.

Dilansir Reuters, Selasa (18/8), seruan dari Trump ini disampaikannya saat upaya negosiasi damai antara kedua negara diwarnai kebuntuan. Trump mengatakan Iran harusnya mengibarkan bendera putih.

"Mereka seharusnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah," cetus Trump dalam wawancara terbaru via telepon dengan Fox News.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kesepakatan sementara yang telah ditandatangani oleh Washington dan Teheran Juni lalu soal 'penghentian segera dan permanen terhadap operasi militer di semua front' telah kandas. Trump mengumumkan kesepakatan itu 'berakhir' pada 7 Juli lalu.

Kementerian Luar Negeri Iran kemudian menyatakan kesepakatan itu 'ditangguhkan' sepekan kemudian. Kedua negara kemudian kembali saling serang.

Berdasarkan nota kesepahaman (MoU) tersebut, AS dan Iran berkomitmen untuk merundingkan kesepakatan final yang mencakup isu-isu lebih luas seperti nasib program nuklir Iran dalam waktu maksimal 60 hari. Hari Senin (17/8) kemarin menandai berakhirnya batas waktu 60 hari sejak MoU tersebut ditandatangani oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Secara terpisah, Iran dan Oman melakukan pembicaraan dalam upaya mencapai kesepakatan guna memulihkan aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui 20 persen pasokan minyak dan gas global sebelum perang berkecamuk pada akhir Februari.

Trump juga mengancam akan menggempur Oman jika negara itu menghalangi kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

"Jika Oman menghalangi, kita akan membombardir mereka habis-habisan," ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Perselisihan mengenai kendali atas Selat Hormuz telah memicu kenaikan harga bahan bakar (BBM) di dunia. Trump juga dalam tekanan untuk mengakhiri perang yang ditentang keras di dalam negeri AS.

Dalam pernyataan via Truth Social pada Senin (17/8), Trump menegaskan Iran tidak bisa mendapatkan senjata nuklir dalam situasi apa pun.

"Tujuan utamanya adalah -- dan akan selalu demikian -- bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk atau cara apa pun," tegas Presiden AS tersebut, mengulangi salah satu alasan yang pernah dia sampaikan untuk membenarkan operasi militer AS terhadap Iran.

Iran Ogah Menyerah

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, membalas desakan Trump. Dia menegaskan Teheran telah 'memenangkan perang sekaligus diplomasi'.

Araghchi, seperti dilansir Anadolu Agency dan TRT World, mengatakan Teheran bertempur dengan caranya sendiri dan memaksa pihak-pihak yang semula menuntut 'penyerahan diri tanpa syarat' -- merujuk pada seruan Trump terhadap Iran di awal perang -- untuk beralih ke meja perundingan.

Menurut laporan kantor berita Tasnim, Aragchi yang berbicara dalam sebuah acara menyebut Iran telah bertahan selama berhari-hari melawan apa yang dia gambarkan sebagai 'kekuatan militer terbesar di dunia'. Dia menilai hampir seluruh negara Barat dan beberapa negara lain di dalam atau di luar kawasan Timur Tengah mendukung AS selama perang berkecamuk.

"Mereka yang menuntut penyerahan diri tanpa syarat, tak lama setelah perang dimulai, justru memohon untuk melakukan negosiasi," kata Araghchi dalam pernyataannya.

Dia mengklaim Iran pada awalnya menolak gencatan senjata dan terus bertempur hingga mencapai titik di mana pihak lawan yang akhirnya menerima gencatan senjata dan negosiasi 'sesuai dengan ketentuan Iran'.

"Kami bertempur dengan kekuatan, dan kami melakukan negosiasi dengan kekuatan," ucap Menlu Iran tersebut.

Araghchi menyebut banyak Menlu dari berbagai negara yang mengatakan kepadanya: "Anda telah memenangkan baik perang maupun diplomasi."

Halaman 2 dari 3
(haf/rfs)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini