5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 15 Agu 2026 19:29 WIB
Kapal-kapal berlayar di Selat Hormuz, terlihat dari wilayah Oman (dok. Reuters)
Kapal-kapal berlayar di Selat Hormuz, terlihat dari wilayah Oman (dok. Reuters)
Jakarta -

Iran menegaskan Selat Hormuz akan tetap menjadi milik mereka, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan mendeklarasikan selat tersebut sebagai bagian wilayah AS usai perang berakhir. Teheran justru menyerukan kepada AS untuk mengakui kekalahan strategis dalam perang.

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Iran Kazem Gharibabadi, mengatakan bahwa Selat Hormuz, jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global, tidak akan bisa direbut begitu saja. Dia menegaskan kepada Trump bahwa Selat Hormuz "akan tetap" menjadi milik Iran.

Sementara itu, Gharibabadi juga menyerukan kepada AS untuk menerima kenyataan bahwa mereka "telah mengalami kekalahan serius dan strategis". Gharibabadi menyebut Washington telah mengalami kekalahan dalam upaya memaksakan kehendak atas jalur perairan strategis tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Sabtu (15/8/2026):

- Iran Tepis Trump Soal Klaim Selat Hormuz Wilayah AS: Akan Tetap Milik Iran!

Iran menanggapi pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal rencana mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai bagian wilayah AS usai perang berakhir. Teheran balik menegaskan kepada Trump bahwa Selat Hormuz "saat ini" dan "akan tetap" menjadi milik Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Iran Kazem Gharibabadi, seperti dilansir Anadolu Agency, Sabtu (15/8/2026), menegaskan bahwa Selat Hormuz, jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global, tidak akan bisa direbut begitu saja.

Selat Hormuz menjadi titik perselisihan terbaru antara Iran dan AS yang berperang sejak akhir Februari lalu. Teheran bersikeras mengendalikan semua pelayaran di jalur perairan strategis, sedangkan Washington menegaskan kebebasan navigasi di perairan Selat Hormuz yang berbatasan dengan daratan Iran dan Oman.

- Iran Serukan AS Akui Kekalahan dalam Perang: Terimalah Kenyataan!

Iran menyerukan kepada Amerika Serikat (AS) untuk mengakui kekalahan strategis, setelah Presiden Donald Trump mengatakan akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS usai mengalahkan Teheran dalam perang.

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Iran Kazem Gharibabadi, seperti dilansir Press TV dan TRT World, Sabtu (15/8/2026), menegaskan bahwa Washington-lah yang telah mengalami kekalahan dalam upaya memaksakan kehendak atas jalur perairan strategis tersebut.

"Terimalah kenyataan ini sekali dan untuk selamanya; sejauh ini, Anda telah mengalami kekalahan serius dan strategis," cetus Gharibabadi dalam pernyataan kepada AS via media sosial X pada Sabtu (15/8) pagi.

- Inggris Kritik Netanyahu Soal Komentar 'Republik Islam Inggris'

Inggris memberikan reaksi keras terhadap Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu yang secara sinis menyebut negara itu sebagai "Republik Islam Inggris" dalam sebuah wawancara. Otoritas London mengecam komentar semacam itu "sama sekali tidak dapat diterima".

Komentar Netanyahu yang menuai kritikan itu, seperti dilansir AFP, Sabtu (15/8/2026), disampaikan dalam sebuah wawancara podcast radio militer pada Kamis (13/8) waktu setempat, di mana dia mengkritik sikap Inggris terhadap Israel.

Pernyataan tersebut mencerminkan retorika para politisi dan komentator sayap kanan ekstrem di dunia Barat, yang kerap melontarkan klaim tidak berdasar soal sebagian wilayah Inggris telah tunduk pada hukum Islam akibat imigrasi -- narasi yang memicu tuduhan Islamofobia.

- Trump Perintahkan Kapal Induk AS Setop Pakai Sistem Canggih, Kenapa?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan agar kapal-kapal induk AS di masa depan tidak lagi menggunakan sistem canggih untuk meluncurkan jet tempur. Trump mencetuskan agar kapal induk AS kembali menggunakan teknologi pelontar versi lama yang telah "teruji".

Perintah Trump tersebut dinilai justru dapat meningkatkan biaya militer secara drastis. Apa alasannya?

Perintah Trump itu, seperti dilansir AFP, Sabtu (15/8/2026), diumumkan sebagai bagian dari memorandum kepresidenan soal keamanan nasional untuk "memperbaiki masalah kritis jangka panjang dalam program pembuatan dan perbaikan kapal Angkatan Laut, dan memulihkan kapasitas dan persaingan dalam basis industri maritim".

- Trump Disebut 'Bercanda' Soal Klaim Selat Hormuz Jadi Wilayah AS, Benarkah?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut sedang "bercanda" saat mengatakan dirinya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah mengalahkan Iran dalam perang. Benarkah demikian?

Laporan seorang wartawan media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), Brian Schwartz, seperti dilansir Anadolu Agency, Sabtu (15/8/2026), mengungkapkan bahwa Trump belum bertemu dengan para penasihat kepresidenan untuk membahas langkah tersebut.

Schwartz menyebut informasi itu didapatkan dari seorang pejabat senior Gedung Putih, yang enggan disebut namanya, saat berbicara kepadanya.

Tonton juga video "Rencana Trump Deklarasikan Selat Hormuz Sebagai Wilayah AS"

Halaman 3 dari 2
(nvc/nvc)


Berita Terkait