Wapres AS Sebut Nuklir Iran Bukan Lagi Prioritas AS, Terus Apa?

Wapres AS Sebut Nuklir Iran Bukan Lagi Prioritas AS, Terus Apa?

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 14 Agu 2026 16:16 WIB
Wapres AS JD Vance (dok. REUTERS/Eric Lee)
Wapres AS JD Vance (dok. REUTERS/Eric Lee)
Washington DC -

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan bahwa program nuklir Iran kini tidak lagi menjadi prioritas utama AS dalam perang. Vance menyebut bahwa menurunkan harga bahan bakar untuk konsumen Amerika kini menjadi prioritas utama AS.

Sebelumnya, mencegah Iran memiliki senjata nuklir secara konsisten disebut oleh Presiden AS Donald Trump sebagai alasan utamanya memulai perang.

Namun Vance dalam wawancara terbaru dengan media AS, Fox News, seperti dilansir AFP, Jumat (14/8/2026), mengatakan bahwa program nuklir Iran kini menjadi prioritas kedua dibandingkan memulihkan kelancaran arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang terdampak perang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya mengetahui bahwa harga minyak turun hari ini dan jauh lebih rendah dibandingkan saat mencapai puncaknya di awal konflik," ucap Vance dalam wawancara tersebut.

"Itu menjadi tujuan nomor satu -- menjaga harga minyak dan gas tetap murah bagi warga Amerika di seluruh penjuru negara kita," kata Wapres AS tersebut.

"Kemudian, tentu saja, tujuan nomor dua adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir," cetusnya.

Pernyataan Vance tersebut menggarisbawahi kenyataan pahit bahwa perang kini berpusat pada kendali atas Selat Hormuz, jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global. Selat Hormuz sebelumnya terbuka bagi kapal-kapal sebelum Trump memulai perang bersama Israel pada akhir Februari.

Selain pernyataan Vance tersebut, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, secara terpisah mengatakan bahwa sanksi ekonomi baru akan segera diberlakukan untuk melemahkan Teheran.

Pernyataan kedua pejabat tinggi AS itu menggambarkan besarnya daya tawar yang dimiliki oleh Iran akibat penutupan Selat Hormuz.

Iran hampir sepenuhnya menutup jalur perairan strategis tersebut untuk membalas serangan-serangan militer AS. Langkah ini memberikan posisi tawar yang krusial bagi Teheran di hadapan Trump, yang berusaha keras mencari jalan keluar dari perang dan enggan melancarkan kembali serangan skala besar.

Angka kepuasan publik terhadap presiden berusia 80 tahun itu merosot tajam beberapa waktu terakhir. Perang yang dikobarkan AS terhadap Iran tidak mendapat dukungan dari masyarakat Amerika.

Ditambah pemilu sela akan segera berlangsung pada November mendatang. Partai Republik khawatir jika Trump dan perang melawan Iran, yang menyebabkan harga bensin melonjak, akan membuat mereka kehilangan kendali atas Kongres AS.

Tonton juga video "Sejarah Bom Atom dan Pencegahan Nuklir"
Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini