Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu kembali bikin pernyataan kontroversial. Dia menyamakan Jalur Gaza di Palestina dengan Korea Utara (Korut).
Dia menyebut warga di Gaza dan Korut sama-sama terisolasi dari dunia luar. Netanyahu menyebut wilayah tersebut merupakan salah satu dari sedikit tempat di dunia di mana para penduduknya tidak bisa pergi.
Dilansir Al-Jazeera, Selasa (4/8/2026), komentar itu disampaikan Netanyahu dalam podcast berbahasa Ibrani saat membahas Jalur Gaza yang hancur gara-gara serangan Israel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Kabar Hubungan Trump dan Netanyahu Retak |
"Menurut pendapat saya, hanya ada dua negara di dunia di mana rakyatnya tidak bisa pergi. Salah satunya adalah Korea Utara, dan yang satunya lagi bukanlah sebuah negara. Namun, sebenarnya tempat itu pernah menjadi sebuah negara. Tempat itu adalah negara Palestina. Ya, itulah kenyataannya," ucap Netanyahu, merujuk pada Jalur Gaza.
"Penduduk Gaza dilarang untuk pergi," cetusnya.
Perang telah membuat jutaan warga Palestina di Jalur Gaza kehilangan tempat tinggal. Namun, sebagian besar dari mereka masih bertahan dan terpaksa hidup di tengah reruntuhan atau puing-puing bangunan yang hancur.
Israel sendiri telah memblokade Jalur Gaza, baik jalur darat maupun jalur laut, selama hampir 15 tahun jauh sebelum perang besar-besaran di daerah kantong Palestina itu dimulai pada Oktober 2023. Selama blokade diberlakukan, pasukan Israel hanya mengizinkan warga Palestina dengan jumlah terbatas untuk keluar dan masuk wilayah Gaza.
Menurut Netanyahu dalam podcast tersebut, situasi tersebut berkaitan dengan penolakan oleh negara-negara pihak ketiga untuk menerima warga Palestina yang mengungsi dari Jalur Gaza. Dia mengklaim langkah menerima para pengungsi Gaza telah dianggap sama saja membantu tujuan Israel.
"Orang-orang sama sekali tidak diizinkan meninggalkan Gaza. Negara-negara berkata, 'Tidak, kami tidak akan menerima mereka, karena itu akan membantu Israel'," kata Netanyahu dalam podcast tersebut.
"Saya bertanya: Bagaimana dengan membantu para penduduk Gaza? Mengapa mereka tidak memiliki hak dasar yang sama seperti miliaran orang di seluruh dunia, yaitu kebebasan untuk bergerak," sambungnya.
Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Gaza pada Oktober 2023. Serangan itu diklaim untuk membalas Hamas atas serangan ke Israel yang menewaskan 1.200 orang.
Dilansir Al-Jazeera, genosida yang dilakukan Israel di Gaza telah menyebabkan 73.375 warga Palestina tewas sejak 7 Oktober 2023 hingga 3 Agustus 2026. Data itu berasal dari Kementerian Kesehatan Palestina.
Selain itu, 174.220 orang Palestina yang terluka akibat serangan Israel. Jumlah korban tewas diperkirakan masih lebih banyak di bawah rerentuhan yang memenuhi Gaza.
Lihat juga Video: PBB Kutuk Pembunuhan Warga Sipil di Gaza, Tegaskan Faskes Haram Disasar!










































