Ancaman China-Rusia-Korut Meningkat, Jepang Perkuat Militer

Ancaman China-Rusia-Korut Meningkat, Jepang Perkuat Militer

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 04 Agu 2026 16:19 WIB
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi (dok. REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi (dok. REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Tokyo -

Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, mengatakan bahwa Tokyo perlu memperkuat militernya dengan "rasa urgensi dan krisis". Hal ini setelah penilaian terbaru pemerintah Jepang kembali menyoroti meningkatnya risiko dari China, Rusia, dan Korea Utara (Korut).

Jepang telah meningkatkan belanja militer dan kerja sama keamanan di kawasan Asia, bahkan mengerahkan peluncur rudal ke pulau-pulau terluar, berupaya mendapatkan kemampuan "serangan balik", dan melonggarkan aturan ekspor senjata.

Namun Koizumi, seperti dilansir AFP, Selasa (4/8/2026), mengatakan bahwa Jepang masih perlu untuk semakin memperkuat kemampuan pertahanannya dengan "rasa urgensi dan krisis".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sangatlah penting bagi Jepang untuk semakin memperkuat dan mentransformasi kemampuan pertahanannya dengan rasa urgensi dan krisis yang lebih kuat dari sebelumnya," cetus Menhan Jepang tersebut dalam kata pengantar buku putih pertahanan tahunan.

Di kawasan Asia-Pasifik, sebut Koizumi, "tidak hanya China dan Korea Utara yang terus memperkuat kemampuan militer mereka, China-Rusia dan Rusia-Korea Utara juga semakin memperkuat kerja sama mereka".

Buku putih pertahanan terbaru Jepang itu menyebutkan bahwa China sedang "mengintensifkan aktivitasnya" di kawasan sekitar Jepang. Disebutkan bahwa aktivitas Beijing itu "meluas dari apa yang disebut sebagai rantai pulau pertama hingga ke rantai pulau kedua".

Buku putih itu mencatat serangkaian insiden pada tahun 2025, termasuk aktivitas kapal induk China dan "manuver jarak dekat yang tidak lazim" oleh pesawat Beijing terhadap pesawat Jepang dalam dua insiden terpisah pada Juni dan Juli tahun tersebut.

Jet-jet tempur Jepang dikerahkan sebanyak 595 kali dalam periode tahun tahun hingga 31 Maret 2026, yang mencakup 366 misi merespons pesawat China dan 214 misi merespons pesawat Rusia. Angka ini lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencatat 704 kali pengerahan jet tempur Jepang.

Pada April lalu, Jepang memutuskan untuk mencabut larangan ekspor senjata yang selama ini diberlakukan negara tersebut. Namun buku putih pertahanan terbaru itu menyoroti berbagai masalah pada basis produksi dalam negeri yang dapat mengancam kelancaran pengadaan dan inovasi.

Koizumi juga mengatakan bahwa dirinya dan Menhan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth telah "bertukar pandangan secara terbuka" mengenai aliansi Tokyo-Washington yang "kokoh". Dia menambahkan bahwa Jepang juga meningkatkan kerja sama keamanan dengan Filipina, Australia, dan Korea Selatan (Korsel) demi mewujudkan "Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka".

"Di tengah situasi keamanan yang kian memburuk dengan cepat, hal yang kini diperlukan adalah memperkuat ketahanan menghadapi krisis di seluruh kawasan Indo-Pasifik," ujar Koizumi dalam buku putih pertahanan Jepang.

Tonton juga video "AS dan Sekutunya Ingatkan Ancaman Siber Korut, Pyongyang: Politis!"

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait