Mantan perdana menteri (PM) Bangladesh yang buron, Sheikh Hasina bertekad untuk kembali ke negaranya pada bulan Desember mendatang, meskipun dia takut akan dibunuh.
"Saya mungkin dibunuh. Saya mungkin ditangkap. Saya mungkin dipenjara," kata Hasina, seperti dikutip kantor berita AFP, Rabu (29/7/2026).
"Saya sepenuhnya menyadari nasib saya. Namun, saya ingin kembali karena rakyat saya memanggil saya," imbuh perempuan berumur 78 tahun itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Digulingkan pada Agustus 2024 oleh pemberontakan yang dipimpin mahasiswa, Hasina melarikan diri dengan helikopter ke India saat massa menyerbu istananya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan hingga 1.400 orang tewas dalam penindakan saat ia mencoba mempertahankan kekuasaannya.
Pada bulan November tahun lalu, Hasina dinyatakan bersalah oleh pengadilan Dhaka atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan dijatuhi hukuman gantung. Vonis ini ia gambarkan sebagai "balas dendam politik yang berkedok hukum".
Hasina kini tinggal di lokasi rahasia di India.
Pemerintah Bangladesh di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Bangladesh Tarique Rahman secara resmi telah meminta ekstradisi Hasina.
Hasina mengatakan masalah ekstradisi tersebut "tidak ada hubungannya" dengan keputusannya untuk kembali ke Bangladesh..
"Saya dapat mengatakan bahwa saya tinggal di India secara terhormat dan bermartabat," katanya.
"Pihak berwenang India belum membahas ekstradisi dengan saya. Saya sendiri telah memutuskan untuk kembali ke negara saya," imbuh Hasina.
Pemerintah Bangladesh telah mengatakan akan memastikan Hasina menerima proses hukum yang semestinya dalam semua kasus jika ia kembali.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah lama menuduh pemerintahan Hasina melakukan pelanggaran termasuk pembunuhan terhadap saingan politik, penindasan partai oposisi, pengadilan yang curang, dan pemilihan umum yang berat sebelah.
Namun Hasina membela rekam jejaknya, dengan mengatakan bahwa banyak tuduhan tersebut merupakan "kampanye yang direkayasa secara politik".
Ketika ditanya apakah ia berencana untuk melanjutkan aktivitas politik setelah kembali ke Bangladesh, Hasina tidak memberikan jawaban langsung.
"Kekuasaan bukanlah tujuan saya. Melayani rakyat adalah tujuan saya," ujarnya.
Ia juga menghindari pertanyaan tentang apakah ia menyesali keputusan-keputusannya selama pemberontakan.
"Keputusan negara tidak dibuat oleh satu orang saja, dan keputusan tersebut tidak dapat dinilai secara jujur dengan mengisolasi satu momen dari keseluruhan krisis," katanya.
Simak Video "Video: Perdana Menteri India dan Singapura Menghadap ke Prabowo, RI Masih Punya Taji?"
[Gambas:Video 20detik] (ita/ita)










































