Iran Akui Bandara Bushehr Lumpuh Akibat Serangan AS

Iran Akui Bandara Bushehr Lumpuh Akibat Serangan AS

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 28 Jul 2026 17:41 WIB
Ilustrasi (dok. via REUTERS/Majid Asgaripour)
Ilustrasi (dok. via REUTERS/Majid Asgaripour)
Teheran -

Pemerintah Iran mengakui bahwa Bandara Bushehr di wilayah barat daya negara itu tidak dapat lagi beroperasi akibat rentetan serangan Amerika Serikat (AS).

Berbicara dalam konferensi pers, seperti dilaporkan kantor berita IRNA dan dilansir Anadolu Agency, Selasa (28/7/2026), juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani mengatakan dirinya bersama sejumlah pejabat Teheran telah mengunjungi Provinsi Bushehr dan memeriksa kondisi bandara di wilayah tersebut.

Mohajerani menggambarkan Bandara Bushehr sebagai fasilitas yang "praktis tidak lagi beroperasi".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami melihat puing-puing pesawat yang telah direkondisi dan dibeli untuk melayani masyarakat, namun pesawat itu hancur akibat hantaman langsung rudal, sehingga hanya menyisakan sebagian kecil pada bagian ekornya yang masih utuh," ucap Mohajerani dalam konferensi pers.

Mohajerani mengatakan bahwa kerusakan tersebut menyebabkan Bandara Bushehr tidak dapat beroperasi. Namun, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai kapan serangan itu terjadi atau sebesar apa kerusakan pada fasilitas bandara lainnya.

Tidak disebutkan juga soal apakah ada korban jiwa akibat serangan di area Bushehr tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah situasi di kawasan Timur Tengah relatif tenang sejak Jumat (24/7) pekan lalu, menyusul keputusan Iran dan AS untuk menangguhkan serangan setelah eskalasi konflik selama 13 hari yang dimulai pada 11 Juli lalu.

Selama eskalasi konflik berlangsung, AS melancarkan gelombang serangan udara terhadap target-target di wilayah Iran. Teheran membalas dengan menargetkan fasilitas dan aset militer Washington di negara-negara tetangganya di kawasan Teluk.

Perselisihan terbaru antara Iran dan AS itu berfokus pada Selat Hormuz, di mana kedua negara memperebutkan kendali atas jalur perairan yang vital bagi pasokan minyak dan gas global tersebut.

AS menuntut kebebasan navigasi tanpa hambatan di jalur perairan strategis tersebut. Sedangkan Iran bersikeras agar kapal-kapal melintasi jalur di dekat garis pantainya di bawah mekanisme navigasi yang mereka kelola sendiri.

Simak juga Video 'Kedatangan Netanyahu ke AS Disambut Aksi Protes':

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini