Demam Piala Dunia telah berakhir di Argentina. Kini, rakyat di Argentina kembali menggelar demonstrasi memprotes kebijakan Presiden Javier Milei.
Dilansir AFP, Kamis (23/7/2026), ribuan orang kembali menggelar aksi unjuk rasa memprotes kebijakan penghematan anggaran (austerity) yang diterapkan Milei. Ribuan demonstran itu memadati jalan-jalan di Buenos Aires pada Rabu (22/7) waktu setempat.
Demonstrasi ini sebenarnya sudah dilakukan rutin. Namun, demonstrasi sempat mereda saat Piala Dunia bergulir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pensiunan awalnya rutin menggelar demonstrasi mingguan di luar gedung Kongres untuk menuntut kenaikan uang pensiun dan akses layanan kesehatan yang lebih baik. Aksi-aksi tersebut kerap dibubarkan oleh aparat kepolisian.
Fokus massa kemudian teralihkan selama sebulan untuk mendukung tim nasional Argentina. Timnas Argentina akhirnya keluar sebagai runner-up Piala Dunia 2026.
Kini, massa kembali ke jalanan ibu kota Argentina untuk memprotes kebijakan Milei. Demonstrasi tersebut diperkuat oleh serikat buruh yang tergabung dalam konfederasi terbesar di Argentina, CGT, serta partai-partai politik sayap kiri dan para simpatisan.
Mobilisasi massa secara besar-besaran ini sempat melumpuhkan akses menuju ibu kota. Bentrokan antara demonstran dan polisi juga dilaporkan pecah di kawasan Avellaneda yang terletak di pinggir Buenos Aires.
"Dua puluh persen orang menjadi jutawan, sedangkan 80 persen dari kita yang berada di bawah tetap sama, bertahan dengan gaji yang rendah," ujar seorang demonstran, Raul Maldonado (69).
Hampir separuh dari 7,8 juta pensiunan di Argentina saat ini hanya menerima pensiun minimum. Jika digabungkan dengan tunjangan bonus, jumlahnya hanya sekitar USD 330 per bulan. Jumlah itu kurang dari sepertiga nominal yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar lansia di Argentina.
Sekretaris Jaminan Sosial CGT Hugo Benitez menegaskan serikat buruh akan meningkatkan intensitas unjuk rasa ke depannya. Dia menyebut negara di kawasan Amerika Selatan itu sedang menghadapi 'situasi kritis bagi seluruh pekerja'.
Selama dua setengah tahun bertugas, pemerintahan Presiden Milei mengandalkan kebijakan austerity untuk menekan laju inflasi dari hampir 200 persen menjadi 33 persen. Para penentang kebijakan itu mengecam dampak sosial yang sangat berat akibat strategi tersebut.
Milei sendiri mengakui besarnya beban ekonomi yang dirasakan masyarakat. Namun, dia bersikeras 'kesabaran' sangat diperlukan demi pemulihan jangka panjang ekonomi Argentina.
Di tengah gelombang kemarahan atas reformasi ekonomi yang terus berjalan, pemerintah mengelu-elukan capaian surplus fiskal dan peningkatan peringkat kredit negara.
"Kami sedang menciptakan kondisi agar lapangan kerja membaik, upah meningkat, dan pendapatan seluruh populasi naik," ujar Wakil Menteri Ekonomi Jose Luis Daza.
Tokoh serikat buruh di Argentina, Horacio Jerez, balik mengecam pernyataan tersebut. Dia mengatakan daya beli masyarakat justru kian tergerus.
"Kondisi makroekonomi adalah satu hal, tetapi kehidupan sosial sehari-hari seluruh rakyat Argentina adalah hal yang sama sekali berbeda," tegas Jerez.










































