Bicara dengan Utusan Trump, Zelensky Ingin Akhiri Perang Lawan Rusia

Bicara dengan Utusan Trump, Zelensky Ingin Akhiri Perang Lawan Rusia

Arief Ikhsanudin - detikNews
Kamis, 23 Jul 2026 01:32 WIB
This handout photograph taken and released by the Ukrainian Presidential Press Service on November 21, 2025 shows Ukraines President Volodymyr Zelensky listening during a phone call with French president, British Prime Minister and German Chancellor
Volodymyr Zelensky (AFP PHOTO/UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE)
Jakarta -

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan telah berbicara dengan utusan khusus Amerika Serikat (AS), Steve Witkoff dan Jared Kushner. Zelensky berharap AS dapat menghidupkan kembali upaya diplomatik untuk mengakhiri perang dengan Rusia.

Dilansir AFP, pembicaraan tersebut berlangsung pada Rabu (22/7/2026). Seperti diketahui, upaya penyelesaian konflik sempat menemui jalan buntu sejak perhatian Washington beralih ke dinamika di Timur Tengah, sementara Rusia tetap pada tuntutan kerasnya agar Ukraina menyerahkan sebagian wilayahnya.

"Saya baru saja berbicara dengan utusan Presiden Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner. Percakapan ini sangat baik dan penting tentang bagaimana menghidupkan kembali diplomasi serta mendekatkan perdamaian," tulis Zelensky melalui akun X miliknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perdamaian sangat dibutuhkan-perdamaian yang bermartabat-dan Ukraina sejak lama telah siap untuk itu. Tim kami terus menjalin komunikasi erat, termasuk untuk menindaklanjuti hal-hal yang telah kami diskusikan," tambahnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada Kamis (23/7/2026) di sela-sela KTT regional di Manila. Pertemuan tersebut dijadwalkan untuk membahas perkembangan perang di Ukraina serta situasi Iran.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kyiv dinilai berhasil menahan gempuran ofensif Moskow di wilayah timur, sekaligus memperluas jangkauan serangan drone ke wilayah Rusia yang mengganggu aktivitas harian di sana pada tahun kelima invasi.

Di sisi lain, Moskow meningkatkan intensitas serangan rudal ke Kyiv dengan meluncurkan puluhan amunisi yang sulit dicegat, di tengah perjuangan Ukraina menghadapi keterbatasan pasokan pertahanan udara.

Rusia berulang kali mendesak Ukraina untuk menarik diri dari wilayah Donbas timur yang masih dikuasainya sebagai syarat utama kesepakatan damai. Namun, Kyiv secara tegas menolak tuntutan tersebut.

Konflik bersenjata ini telah menelan ratusan ribu korban jiwa dan mencatatkan diri sebagai perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.

(aik/aik)


Berita Terkait