Menhan AS Beberkan Perang Iran Sudah Habiskan Dana Rp 671 T

Menhan AS Beberkan Perang Iran Sudah Habiskan Dana Rp 671 T

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 22 Jul 2026 12:32 WIB
Menhan AS Pete Hegseth (REUTERS/Eric Lee)
Menhan AS Pete Hegseth (REUTERS/Eric Lee)
Washington DC -

Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth mengungkapkan bahwa perang melawan Iran telah menghabiskan biaya sebesar US$ 37,5 miliar, atau setara Rp 671,7 triliun, sejauh ini.

Angka tersebut, seperti dilansir Reuters, Rabu (22/7/2026), diungkapkan Hegseth dalam rapat dengar pendapat di parlemen AS pada Selasa (21/7) waktu setempat, ketika Pentagon berupaya menambah anggaran darurat untuk perang yang menuai banyak kritikan tersebut.

Ini menjadi momen pertama kalinya bagi Hegseth, sejak pertempuran kembali berkobar, berhadapan dengan anggota parlemen AS yang skeptis mengenai berlanjutnya perang melawan Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan pemilu sela akan digelar enam bulan lagi, Partai Republik yang mendukung Presiden AS Donald Trump diperkirakan menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan dominasi atas DPR dan Senat. Sementara Partai Demokrat berada dalam posisi lebih kuat dalam jajak pendapat publik, saat mereka berupaya mengaitkan isu perang Iran dengan masalah keterjangkauan biaya hidup.

Berbicara di hadapan para anggota parlemen AS, Hegseth menjelaskan bahwa angka US$ 37,5 miliar itu mencakup aspek-aspek tertentu dari perang dan perkiraan biaya hingga 30 September mendatang.

Tidak diketahui secara jelas bagaimana Pentagon menghitung angka tersebut. Sebelumnya, pada Maret lalu, seorang sumber yang dikutip Reuters mengatakan bahwa pemerintahan Trump memperkirakan biaya enam hari pertama perang melawan Iran mencapai setidaknya US$ 11,3 miliar, atau setara Rp 202,3 triliun.

Bulan lalu, Trump meminta anggaran tambahan kepada Kongres AS sebesar hampir US$ 90 miliar (Rp 1.611 triliun), yang sebagian besar terkait dengan konflik Iran.

Permintaan anggaran tambahan itu berpotensi memicu perdebatan terbaru dengan para anggota parlemen AS, yang merasa frustrasi dengan perang Iran yang tak kunjung usai dan karena mereka akan menghadapi pemilu sela pada November mendatang.

Baik anggota parlemen dari Partai Republik maupun Partai Demokrat telah menyampaikan keluhan sejak AS dan Israel mulai membombardir Iran pada 28 Februari. Mereka mengkritik Trump dan tim penasihatnya karena tidak memberikan informasi kepada mereka mengenai operasi militer tersebut ataupun soal rencana-rencana Trump.

Di sisi lain, Partai Republik memiliki selisih kursi yang sangat tipis di DPR maupun Senat, sehingga rancangan undang-undang mengenai alokasi anggaran biasanya membutuhkan dukungan dari Partai Demokrat untuk bisa disahkan.

"Presiden melontarkan ancaman eskalasi dan kejahatan perang, dan mengisyaratkan bahwa hal ini bisa menjadi perang tanpa akhir lainnya," kritik Senator Demokrat, Patty Murray, dari Komite Alokasi Anggaran dalam rapat dengar pendapat tersebut.

Namun Hegseth, di hadapan anggota-anggota parlemen AS, tetap menyerukan kepada para anggota parlemen AS untuk tidak hanya menyetujui permintaan anggaran tambahan, tetapi juga permintaan anggaran total sebesar US$ 1,5 triliun untuk tahun 2027 mendatang.

"Tidak mendanai departemen ini dengan anggaran US$ 1,5 triliun, menurut saya, merupakan ancaman terbesar yang dihadapi negara kita," sebut Hegseth.

Simak juga Video 'Fasilitas Nuklirnya Diserang AS, Iran: Pelanggaran yang Mencolok':

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini