Khalil Al-Hayya Terpilih Jadi Pemimpin Baru Hamas

Khalil Al-Hayya Terpilih Jadi Pemimpin Baru Hamas

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 21 Jul 2026 16:57 WIB
Khalil al-Hayya dalam foto tahun 2008 (dok. REUTERS/Mohammed Salem)
Khalil al-Hayya dalam foto tahun 2008 (dok. REUTERS/Mohammed Salem)
Gaza City -

Kelompok Hamas yang bermarkas di Jalur Gaza mengumumkan Khalil Al-Hayya sebagai pemimpin baru mereka. Hayya dipilih untuk menggantikan mendiang Yahya Sinwar, yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2024.

Terpilihnya Hayya sebagai pemimpin baru itu, seperti dilansir Reuters dan Anadolu Agency, Selasa (21/7/2026), diumumkan langsung oleh Hamas dalam pernyataan singkat yang dirilis pada Senin (20/7) waktu setempat. Langkah ini, menurut analis, dinilai mengisyaratkan sikap lebih keras dari kelompok itu terhadap seruan perlucutan senjata.

Pernyataan singkat Hamas itu menyatakan bahwa Hayya telah "terpilih sebagai kepala biro politik gerakan tersebut", menggantikan mendiang Sinwar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hayya, yang sebelumnya merupakan pemimpin Hamas untuk wilayah Gaza yang berada dalam pengasingan dan negosiator utama untuk kelompok tersebut, telah menjadi sosok yang semakin sentral dalam kepemimpinan Hamas sejak kematian Sinwar dan Ismail Haniyeh, yang tewas dalam serangan di Iran pada Juli 2024.

Dia dipandang memiliki sikap yang lebih garis keras dibandingkan Khaled Meshaal, yang merupakan kepala kantor Hamas dalam pengasingan yang juga kandidat kuat lainnya untuk posisi pemimpin.

Hayya termasuk di antara jajaran pejabat tinggi Hamas yang menjadi target serangan Israel di Doha, Qatar, tempat dia bermarkas.

Setelah kematian Sinwar, Hamas mengandalkan dewan tinggi beranggotakan lima orang untuk kepemimpinannya, yang mencakup Hayya dan Meshaal, serta tiga pejabat senior lainnya.

Pemilihan pemimpin baru Hamas merupakan proses panjang yang dimulai sejak Januari lalu. Proses ini sempat terhenti akibat perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel, kemudian pertempuran di Lebanon antara Hizbullah dan militer Tel Aviv, serta operasi militer Israel yang terus berlangsung di Gaza.

Pemilihan pemimpin Hamas dilakukan oleh dewan beranggotakan 50 orang, yang terdiri atas para anggota Hamas di Gaza, di Tepi Barat, termasuk mereka yang ada di penjara Israel, dan mereka yang berada di pengasingan.

Pemilihan Pemimpin Baru Hamas Dipandang sebagai Pesan Perlawanan

Analis politik Palestina, Reham Owda, menilai terpilihnya Hayya memiliki sejumlah pesan khusus.

Dia menyebut pemilihan pemimpin baru itu mengisyaratkan bahwa Hamas tetap berkomitmen pada perjuangan bersenjata, menolak perlucutan senjata dalam kondisi apa pun, dan berniat membangun kembali kekuatan militer mereka, sembari mempertahankan aliansi dengan Iran dan Poros Perlawanan.

"Hal ini mengindikasikan bahwa negosiasi terkait perlucutan senjata kemungkinan besar akan menghadapi kesulitan dan hambatan yang signifikan," kata Owda kepada Reuters.

Rencana perdamaian Gaza yang digagas Presiden AS Donald Trump menuntut Hamas melucuti persenjataan dan Israel menarik pasukan dari Jalur Gaza. Namun pembicaraan antara Hamas, pihak mediator -- Mesir, Qatar, dan Turki, dan utusan Dewan Perdamaian bentukan Trump sejauh ini gagal mencapai kesepakatan menyeluruh untuk mengakhiri konflik.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Israel Serang Gaza, 10 Orang Tewas Termasuk Komandan Hamas"
[Gambas:Video 20detik] (nvc/ita)


Berita Terkait