Sekjen NATO: Serangan AS ke Iran Sangat Diperlukan

Sekjen NATO: Serangan AS ke Iran Sangat Diperlukan

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 08 Jul 2026 15:16 WIB
Sekjen NATO Mark Rutte (dok. AFP/TOBIAS SCHWARZ)
Sekjen NATO Mark Rutte (dok. AFP/TOBIAS SCHWARZ)
Ankara -

Sekretaris Jenderal Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Mark Rutte, mengatakan bahwa serangan terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran "sangat diperlukan" karena adanya pelanggaran gencatan senjata.

Militer AS melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap target-target Iran pada Selasa (7/7) waktu setempat dan mencabut izin penjualan minyak Teheran, setelah tiga kapal tanker dihantam serangan di Selat Hormuz.

Perkembangan situasi ini memberikan tekanan pada gencatan senjata yang sudah rapuh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya pikir itu mutlak diperlukan karena ketika ada gencatan senjata, dan Iran pada dasarnya melanggar gencatan senjata tersebut -- kita melihat apa yang terjadi kemarin dengan adanya serangan terhadap kapal-kapal -- menurut saya, sangatlah penting bagi AS untuk bereaksi dengan tegas," kata Rutte saat berbicara kepada wartawan menjelang pertemuan puncak para pemimpin NATO di Ankara, Turki, seperti dilansir Reuters, Rabu (8/7/2026).

Dalam pertemuan puncak tersebut, para pemimpin Eropa berupaya meyakinkan Presiden AS Donald Trump untuk kembali berkomitmen pada aliansi militer tersebut. Hal ini setelah Trump terlibat perselisihan dengan sekutu-sekutu NATO terkait perang Iran dan masalah Greenland.

Rutte mengatakan bahwa tidak perlu ada keraguan mengenai "komitmen penuh Amerika Serikat terhadap NATO", yang disebutnya juga berperan melindungi AS.

"Namun, ada juga harapan agar negara-negara Eropa dan Kanada akan menyetarakan tingkat pengeluaran mereka dengan Amerika Serikat, yang menurut saya sangatlah wajar," ucapnya.

"Kabar baiknya adalah hal ini merupakan kemenangan besar hari ini. Ini adalah kekalahan bagi (Presiden Rusia Vladimir) Putin, dan kemenangan bagi Presiden Trump, bahwa negara-negara Eropa dan Kanada benar-benar melakukan hal tersebut," ujarnya.

Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran dituduh menyerang tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, termasuk kapal milik Qatar dan Arab Saudi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa Teheran tetap berkomitmen untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, dia juga memperingatkan bahwa "kapal-kapal yang menggunakan rute (di Selat Hormuz) tanpa koordinasi dengan otoritas Iran, telah mengekspose diri mereka pada risiko".

Secara terpisah, lembaga penyiaran Iran, IRIB, yang mengutip sumber-sumber anonim, mengklaim bahwa kapal tanker Qatar menjadi sasaran setelah mengabaikan peringatan berulang kali dari pasukan Iran, saat melintasi Selat Hormuz dengan didukung Angkatan Laut AS.

Untuk merespons serangan itu, Komando Pusat AS atau CENTCOM, melancarkan serangan ofensif terhadap lebih dari 80 target terkait Iran, termasuk sistem pertahanan udara Iran, lokasi radar pesisir, hingga lebih dari 60 kapal kecil milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

IRGC membalas gempuran AS dengan menyerang pangkalan Washington di Bahrain dan Kuwait. Diklaim oleh IRGC bahwa "Angkatan Laut dan Angkatan Udara IRGC melakukan operasi gabungan rudal dan drone, menyerang 85 fasilitas militer utama AS" di kedua negara itu dan menembak jatuh sebuah drone MQ-9.

Lihat juga Video: Iran Ancam Serangan Balasan Seusai AS Gempur Selat Hormuz Lagi

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait