Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu membantah laporan yang menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatasi operasi militer Israel di Lebanon, yang selama ini diklaim menargetkan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Netanyahu, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (6/7/2026), menegaskan bahwa laporan tersebut hanyalah "dongeng" dan "berita palsu".
"Saya mendengar kabar di media yang menyebutkan bahwa Presiden Trump meminta agar tidak ada tindakan terhadap terowongan teror di Lebanon. Itu hanyalah dongeng, berita palsu," kata Netanyahu saat berbicara dalam rapat mingguan kabinet pada Minggu (5/7) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia (Trump) tidak mengatakan apa pun kepada saya mengenai hal tersebut, dan saya tidak memintanya. Kita bertindak berdasarkan pertimbangan kita sendiri," tegas PM Israel tersebut.
Penegasan Netanyahu ini membantah laporan lembaga penyiaran publik Israel, KAN, pada akhir bulan lalu.
Laporan KAN menyebut bahwa Israel telah memberikan data intelijen terperinci kepada para pejabat AS mengenai dugaan terowongan Hizbullah di area Dataran Tinggi Ali al-Taher, yang ada di Lebanon bagian selatan, sebagai upaya untuk mendapatkan persetujuan Washington bagi operasi militer di wilayah tersebut.
Laporan tersebut mengindikasikan bahwa Israel berupaya mendapatkan "lampu hijau" dari AS untuk melanjutkan aktivitas militernya di wilayah Lebanon. Hal itu bertentangan dengan penegasan Netanyahu soal keputusan militer Tel Aviv diambil secara independen.
Sejak Maret lalu, menurut data otoritas Beirut, operasi militer Israel di Lebanon telah menewaskan sedikitnya 4.303 orang dan melukai 12.202 orang lainnya, serta memaksa lebih dari satu juta orang mengungsi.
Pada 26 Juni lalu, Israel dan Lebanon menandatangani perjanjian kerangka kerja yang dimediasi AS, yang bertujuan mengakhiri pendudukan Israel atas wilayah Lebanon.
Lihat juga Video: Israel Klaim Hancurkan Terowongan Hizbullah di Lebanon











































