Sah, Perusahaan AS Akan Kelola 2 Ladang Minyak Irak

Sah, Perusahaan AS Akan Kelola 2 Ladang Minyak Irak

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 06 Jul 2026 13:52 WIB
Ladang minyak Irak (dok. REUTERS/Essam Al-Sudani)
Ladang minyak Irak (dok. REUTERS/Essam Al-Sudani)
Baghdad -

Pemerintah Irak telah menandatangani kesepakatan dengan perusahaan raksasa penyedia jasa perminyakan asal Amerika Serikat (AS), Halliburton. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Halliburton akan mengelola dua ladang minyak di wilayah selatan Irak.

Kesepakatan ini diteken saat pemerintah Irak berupaya untuk meningkatkan produksi minyak mereka.

Kementerian Perminyakan Iran, seperti dilansir AFP, Senin (6/7/2026), mengumumkan bahwa kesepakatan antara Perusahaan Minyak Basra, perusahaan minyak milik negara Irak, dan Halliburton, yang merupakan salah satu penyedia jasa ladang minyak terbesar di dunia, telah diteken pada Minggu (5/7) waktu setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perusahaan Minyak Basra telah menandatangani kontrak pengelolaan bersama dengan perusahaan Amerika, Halliburton, untuk ladang minyak Bin Omar dan Sinbad (di Provinsi Basra)," demikian pernyataan kantor media Kementerian Perminyakan Irak.

Menteri Perminyakan Irak, Bassem Khodeir, mengatakan bahwa kesepakatan dengan Halliburton tersebut sejalan dengan rencana pemerintah untuk "meningkatkan kapasitas produksi minyak dan gas".

Dia menambahkan bahwa Irak menargetkan peningkatan produksi di ladang minyak Bin Omar sebesar 150.000 barel per hari dalam kurun waktu lima tahun, serta peningkatan produksi gas terkait sebesar 300 juta kaki kubik.

Sementara produksi di ladang minyak Sinbad diperkirakan akan meningkat sebesar 80.000 hingga 100.000 bpd.

Pemerintahan baru Baghdad, yang dipimpin oleh Perdana Menteri (PM) Ali al-Zaidi, telah mendesak kartel minyak OPEC untuk meningkatkan kuota produksi minyak Irak, dengan mempertimbangkan kerusakan pada industri negara tersebut akibat konflik masa lalu dan perang Timur Tengah baru-baru ini.

Seperti produsen minyak lainnya, Irak yang merupakan anggota pendiri OPEC, sangat terdampak oleh konflik AS-Iran karena negara ini sangat bergantung pada ekspor minyak, yang menyumbang sekitar 90 persen dari pendapatan anggarannya.

Kontrak terbaru dengan Halliburton tersebut ditandatangani menjelang kunjungan Zaidi ke Washington DC yang dijadwalkan pada akhir bulan ini.

Zaidi yang baru saja menjabat dengan restu AS, berharap dalam menarik lebih banyak investasi Amerika ke Irak, yang sangat membutuhkan pemulihan ekonomi. Penghentian ekspor minyak selama perang Timur Tengah telah berdampak pada hilangnya pendapatan Irak.

Lihat juga Video Ladang Minyak yang Dikelola Perusahaan AS di Irak Diserang Drone

Halaman 3 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait