Perjalanan Presiden Terpilih Peru Keiko Fujimori, Pernah 3 Kali Kalah Pilpres

Perjalanan Presiden Terpilih Peru Keiko Fujimori, Pernah 3 Kali Kalah Pilpres

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Senin, 06 Jul 2026 08:02 WIB
Perus conservative Keiko Fujimori addresses the media at her partys Popular Force headquarters, after she narrowly defeated leftist congressman Roberto Sanchez in the Peruvian presidential election, ahead of the official result announcement, in Lim
Foto: Keiko Fujimori (REUTERS/Angela Ponce)
Jakarta -

Keiko Fujimori diumumkan sebagai presiden terpilih Peru yang baru. Keiko pernah tiga kali kalah dalam pemilihan presiden (pilpres).

Dirangkum detikcom dilansir kantor berita CNN dan CNBC, Senin (6/7/2026), wanita berusia 51 tahun itu merupakan putri dari mendiang Presiden Peru Alberto Fujimori dan Susana Higuchi. Keiko pernah menjadi satu-satunya wanita pertama di Peru yang bisa masuk dalam pertarungan pilpres pada 2011 silam.

Pertama kali bertarung, Keiko kalah. Keiko pun kembali mencoba memperebutkan kursi kepresidenan di pilpres 2016 dan 2021, namun dua-duanya juga berakhir dengan kekalahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pilpres kali ini, Keiko dinyatakan menang pemilihan putaran kedua pilpres Peru pada 7 Juni. Kantor Proses Pemilu Nasional Peru telah merilis penghitungan suara akhir yang menunjukkan partai Keiko, Kekuatan Populer, mengungguli kandidat sayap kiri Roberto Sánchez dari partai Bersama untuk Peru.

Selisih suara hanya 49.641 dari sekitar 18 juta suara. Keiko memperoleh 50,13% suara sah dibandingkan 49,86% suara Sánchez.

Keiko akan dilantik sebagai presiden pada 28 Juli dan diperkirakan akan menjabat selama 5 tahun bersama Luis Fernando Galarreta sebagai Wakil Presiden pertama dan Miguel Ángel Torres Morales sebagai Wakil Presiden kedua. Dia akan menjadi presiden kesembilan Peru dalam 10 tahun terakhir.

Dalam sebuah unggahan di X setelah pengumuman resmi, Keiko berterima kasih kepada para pemilih atas dukungan mereka dan mengatakan Peru memasuki 'babak baru'. Dia berjanji untuk memimpin transisi dengan 'kerendahan hati dan rasa tanggung jawab yang mendalam'.

Setelah pengumuman penghitungan suara akhir, dia menuduh adanya penyimpangan dalam pemungutan suara di luar negeri dan mengatakan akan mengajukan banding ke Komisi Hak Asasi Manusia Antar-Amerika (IACHR). Dalam deklarasi kemenangan Fujimori pada Jumat (3/7), Dewan Pemilihan Nasional Peru mengatakan bahwa peninjauan tidak menemukan inkonsistensi seperti itu dalam pemungutan suara dan menolak banding yang diajukan oleh Bersama untuk Peru.

Lihat juga Video: Puan dan Presiden Peru Bertemu Bahas Ekonomi-Pariwisata

Halaman 2 dari 2
(whn/yld)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini