Jet Tempur-Drone AS Hilir Mudik di Selat Hormuz, Iran Geram!

Jet Tempur-Drone AS Hilir Mudik di Selat Hormuz, Iran Geram!

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 03 Jul 2026 16:50 WIB
Kapal melintasi Selat Hormuz (dok. REUTERS/Amr Alfiky)
Kapal melintasi Selat Hormuz (dok. REUTERS/Amr Alfiky)
Teheran -

Militer Iran memprotes keras kehadiran pesawat militer Amerika Serikat (AS), baik yang berawak maupun tanpa awak, secara terus-menerus di atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi titik perselisihan antara Teheran dan Washington yang berkonflik.

Teheran memperingatkan bahwa kehadiran jet tempur dan drone Washington di jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global itu mengancam keamanan kawasan.

Militer Iran juga menegaskan, seperti dilansir Middle East Monitor, Jumat (3/7/2026), mereka akan memberikan respons yang "cepat dan tegas" terhadap setiap campur tangan AS di Selat Hormuz.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pernyataan yang dilaporkan kantor berita Fars News Agency, pada Kamis (2/7), Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya -- markas operasional gabungan militer Iran -- menyebut kehadiran jet tempur dan drone AS secara terus-menerus di atas Selat Hormuz "telah menimbulkan ketidakamanan di jalur perairan ini dan akan mengancam keamanan kawasan".

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa Iran "tidak akan ragu untuk mengambil tindakan apa pun" untuk menangkis "setiap agresi dan pelanggaran oleh militer AS dan para pendukungnya demi mempertahankan kedaulatannya atas Selat Hormuz".

"Setiap campur tangan Amerika di Selat Hormuz akan ditanggapi secara tegas dan cepat oleh Angkatan Bersenjata (Iran)," demikian pernyataan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya.

Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menggambarkan Selat Hormuz sebagai "wilayah kedaulatan Republik Islam Iran", dan bahwa keamanan serta stabilitas jalur perairan strategis tersebut merupakan "garis merah" bagi militer Iran.

Ditambahkan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya dalam pernyataannya bahwa semua kapal tanker minyak dan kapal komersial harus menggunakan jalur navigasi yang ditetapkan oleh Iran saat melintasi Selat Hormuz.

Menurut pernyataan tersebut, setiap kapal yang gagal mematuhi jalur atau protokol navigasi yang ditetapkan Teheran akan menghadapi "respons langsung dan tegas" dari Angkatan Bersenjata Iran dan berisiko membahayakan keamanan mereka sendiri.

Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada pertengahan Juni lalu, yang mengatur soal gencatan senjata yang disepakati sebelumnya selama 60 hari, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, dan pembukaan kembali sepenuhnya Selat Hormuz.

Negosiasi teknis menindaklanjuti MoU tersebut digelar beberapa waktu terakhir dengan dimediasi Pakistan dan Qatar. Negosiasi akan dilanjutkan kembali setelah Iran menyelesaikan seremoni pemakaman mantan pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei.

Negosiasi teknis itu akan mencakup konsensus tentang status program nuklir Iran dan berupaya mengakhiri konflik secara permanen.

Tonton juga video "Iran Minta Negara Lain Tak Campuri Pengelolaan Selat Hormuz"

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait