Nestapa Puluhan Ribu Warga Tidur di Jalan Buntut Gempa Venezuela

Nestapa Puluhan Ribu Warga Tidur di Jalan Buntut Gempa Venezuela

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 02 Jul 2026 06:04 WIB
Aerial view of displaced people near a park in Caraballeda, La Guaira state, Venezuela, on June 30, 2026, following earthquakes.  MIGUEL MEDINA/Pool via REUTERS     TPX IMAGES OF THE DAY
Foto: via REUTERS/MIGUEL MEDINA
Jakarta -

Gempa bumi kembar yang mengguncang Venezuela telah menewaskan 1.943 orang. Selain korban meninggal, puluhan ribu warga Venezuelas saat ini kehilangan tempat tinggal.

Gempa di Venezuela terjadi pada 24 Juni pekan lalu. Berdasarkan data terbaru pada Selasa (30/6), korban tewas telah menyentuh di angka 1.943 orang.

Sebanyak 15.866 orang kehilangan tempat tinggal dan 10.571 dilaporkan luka-luka. Venezuela telah menyiapkan sejumlah posko pengungsian bagi warga terdampak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebanyak 27 negara telah mengirim hampir 40 tim pencarian dan penyelamatan, terdiri atas lebih dari 2.000 personel serta lebih dari 160 anjing pelacak.

Warga Terpaksa Tidur di Jalanan

Puluhan ribu orang di Venezuela kesulitan mencari makanan dan tempat berlindung setelah gempa kembar dahsyat mengguncang pekan lalu, hingga menewaskan nyaris 2.000 orang. Para dokter memperingatkan kemunculan wabah penyakit karena warga yang kehilangan tempat tinggal terpaksa tidur di jalanan.

Dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang secara berurutan, berkekuatan Magnitudo 7,2 dan Magnitudo 7,5, telah merobohkan banyak kompleks perumahan, dengan puluhan ribu orang belum diketahui nasibnya dan dikhawatirkan terjebak reruntuhan.

Operasi pencarian dan penyelamatan yang intens untuk menemukan korban-korban yang terjebak di bawah reruntuhan terus dilakukan, meskipun jendela waktu kritis selama 72 jam untuk bertahan hidup telah berlalu.

Badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), UNHCR, seperti dilansir AFP, Rabu (1/7/2026), melaporkan bahwa "kekurangan makanan terjadi secara luas, layanan dasar lumpuh, dan saluran komunikasi sebagian besar terputus" di kota pelabuhan La Guaira, yang menjadi wilayah terdampak gempa paling parah.

"Mereka membagikan pasokan di sini, tetapi terkadang orang-orang nyaris saling membunuh demi makanan...suasananya seperti sabung ayam," tutur salah satu warga La Guaira, Daniela Armas (18), yang berprofesi sebagai pedagang dan mengalami luka-luka akibat gempa.

6.500 Orang Diselamatkan dari Reruntuhan

Hampir 6.500 orang telah diselamatkan dari reruntuhan di La Guaira. Namun angka tersebut diperkirakan mendekati 20.000 orang jika mencakup mereka yang berhasil menyelamatkan diri atau dibantu oleh keluarga mereka.

Banyak warga Venezuela mengungkapkan kemarahan atas lambatnya respons pemerintah terhadap bencana ini, terutama saat kondisi negara yang bergulat dengan krisis ekonomi selama beberapa dekade, yang melemahkan infrastruktur dan layanan kesehatan.

Badan pengungsi PBB tersebut melaporkan bahwa pihaknya membutuhkan dana sebesar US$ 14,85 juta (Rp 266,4 miliar) untuk meningkatkan penyaluran bantuan dan penyediaan tempat perlindungan bagi 30.000 orang selama enam bulan.

"Ketegangan di tengah masyarakat meningkat seiring masih terbatasnya akses terhadap bantuan," ujar juru bicara UNHCR, Carlotta Wolf, dalam laporannya.

Berdasarkan penilaian awal terhadap data satelit yang dirilis NASA, gempa kembar dahsyat tersebut telah merusak atau menghancurkan 58.870 bangunan.

Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Christian Lindmeier, mengatakan bahwa layanan kesehatan di Venezuela sudah kewalahan dan berada di bawah "tekanan ekstrem".

Lindmeier menambahkan bahwa "saat ini terdapat peningkatan risiko wabah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin", seperti campak dan difteri, akibat rendahnya cakupan vaksinasi sebelum terjadinya gempa.

Lihat Video 'Pelabuhan Venezuela Penuh Peti Jenazah, Korban Gempa Tembus 2.295':

Halaman 2 dari 2
(ygs/ygs)


Berita Terkait