Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan sedang menjalin kontak dengan oposisi Israel. Kontak tersebut menyusul adanya isu liar terkait kemungkinan perubahan dalam pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, seiring meningkatnya perselisihan antara Washington dan Tel Aviv.
Dirangkum detikcom, Selasa (23/6), berdasarkan laporan media lokal Israel, Channel 12, seperti dilansir Middle East Monitor, menyebutkan bahwa para pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump meyakini jika pemerintahan Netanyahu mungkin akan diganti, yang mendorong AS melakukan kontak informal dengan para pemimpin oposisi Israel.
Di antara pemimpin oposisi Israel yang berkomunikasi dengan Washington, terdapat Naftali Bennett, mantan PM Israel yang kini menjadi ketua Partai Together, dan Gadi Eisenkot yang merupakan ketua Partai Yashar.
"Pemerintahan AS telah menyatakan keprihatinan tentang kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan populer baru sebelum pemilu," demikian dilaporkan Channel 12 pada Minggu (21/6) waktu setempat.
Menurut laporan Channel 12, oposisi Israel telah berupaya membangun hubungan dengan pemerintahan Trump dalam beberapa bulan terakhir, dan telah mencapai "kesuksesan terbatas dengan para pejabat yang kritis terhadap kebijakan Netanyahu".
"Langkah Amerika bertujuan untuk memanfaatkan peluang politik mengingat krisis kepercayaan dengan pemerintah Israel saat ini," sebut Channel 12 dalam laporannya.
Channel 12 melaporkan bahwa AS melihat perlunya membangun "mekanisme kepercayaan informal baru" dengan Israel, meskipun Trump sendiri belum memberikan dukungan kepada politisi-politisi Israel lainnya.
Jajak pendapat yang dipublikasikan surat kabar Israel, Maariv, pada Jumat (19/6) waktu setempat menunjukkan bahwa oposisi Israel dapat membentuk pemerintahan baru jika pemilu digelar hari ini, dengan diprediksi memenangkan 61 kursi dalam parlemen Knsesset melawan 49 kursi milik koalisi Netanyahu.
Jajak pendapat itu juga memprediksi bahwa partai-partai Arab di Israel akan memenangkan 10 kursi dalam pemilu mendatang, yang dijadwalkan pada Oktober tahun ini.
Sejauh ini belum ada tanggapan langsung dari AS maupun Israel terkait laporan tersebut.