PM Belanda Minta Maaf ke Ribuan Eks Tentara KNIL Asal Maluku

PM Belanda Minta Maaf ke Ribuan Eks Tentara KNIL Asal Maluku

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 23 Jun 2026 13:02 WIB
PM Belanda Rob Jetten (dok. REUTERS/Laia Ros)
PM Belanda Rob Jetten (dok. REUTERS/Laia Ros)
Amsterdam -

Perdana Menteri (PM) Belanda Rob Jetten secara resmi meminta maaf atas perlakuan "kejam" terhadap ribuan mantan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) asal Maluku, yang bertempur untuk militer kolonial Belanda selama era perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Permintaan maaf Jetten ini, seperti dilansir The Guardian, Selasa (23/6/2026), disampaikan sekitar 75 tahun setelah kedatangan 12.500 orang, yang terdiri atas pria-pria asal Maluku yang bertempur untuk KNIL dan keluarga mereka, di Pelabuhan Rotterdam pada tahun 1951 silam.

Kebanyakan dari mereka tidak diberi pilihan. Mereka mengira itu hanya akan menjadi evakuasi sementara setelah Indonesia meraih kemerdekaannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka berharap akan adanya Republik Maluku sendiri setelah tinggal selama enam bulan, tetapi sebaliknya mereka malah diberhentikan secara paksa dari KNIL, dilarang untuk bekerja dan memilih, serta ditempatkan di tempat-tempat seperti bekas kamp transit Nazi, Westerbork.

Republik Maluku yang mereka dambakan tidak pernah terwujud, bahkan beberapa orang di antaranya bahkan tidak pernah membuka koper mereka, dengan harapan bisa kembali ke Indonesia.

Dalam seremoni peresmian monumen nasional yang didanai melalui penggalangan dana di tepi pelabuhan Rotterdam, tempat kapal terakhir eks tentara KNIL tiba, Jetten menyampaikan permintaan maaf atas nama pemerintah Belanda.

"Atas pemecatan mereka yang tidak berperasaan dan tidak terhormat sebagai tentara, atas penerimaan dan tempat tinggal mereka yang tidak layak, atas ketidakpedulian da pengabaian terhadap mereka, atas kerinduan akan kampung halaman yang tak terpenuhi, atas kesedihan dan penderitaan di banyak keluarga Maluku ... untuk semua ini, saya menyampaikan permintaan maaf hari ini atas nama pemerintah Belanda," kata Jetten.

"Ini bukan hanya sudah saatnya, tetapi juga perlu jika kita ingin bergerak maju," ucapnya.

Ada sejumlah kritikan bahwa permintaan maaf ini sudah sangat terlambat, mengingat sebagian besar generasi pertama dari eks tentara KNIL asal Maluku telah lama berpulang. Komunitas Maluku yang merupakan keturunan para tentara KNIL di Belanda kini mencapai sekitar 70.000 orang.

"Permintaan maaf seharusnya menyinggung sikap paternalistik pemerintah Belanda pada saat itu, dan bahwa pemerintah tidak memikirkan bagaimana mereka bisa kembali. Itulah mengapa penderitaan terus berlanjut," kata Fridus Stejlen, salah satu penulis sejarah komunitas Maluku di Belanda baru-baru ini.

Tonton juga video "Momen Pertemuan Jokowi dengan PM Norwegia-PM Belanda di Sela COP28"

Halaman 3 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait