Mundurnya Keir Starmer, PM Inggris Paling Tidak Populer

Mundurnya Keir Starmer, PM Inggris Paling Tidak Populer

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 22 Jun 2026 18:08 WIB
Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya (Foto: REUTERS/Jaimi Joy)
Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya (Foto: REUTERS/Jaimi Joy)
Jakarta -

Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer meraih kekuasaan pada tahun 2024, memberikan kemenangan telak kepada partainya, Partai Buruh, atas Partai Konservatif.

Namun, hampir dua tahun kemudian, dia mengundurkan diri sebagai perdana menteri paling tidak populer di Inggris dalam beberapa dekade, meskipun dihormati secara internasional.

Starmer mengumumkan pengunduran dirinya pada hari Senin (22/6), mengatakan bahwa menjadi perdana menteri adalah "momen paling membanggakan dalam hidupnya", tetapi ia menerima bahwa ia harus pergi "dengan lapang dada".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pidatonya yang emosional, suaranya terdengar bergetar dan tampak menahan air mata saat memberikan penghormatan kepada keluarganya, sebelum menyudahi pidatonya dan dipeluk oleh istrinya, Victoria.

Sebelumnya, dalam pidato pertamanya sebagai perdana menteri pada 5 Juli 2024, seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (22/6/2026), Starmer (63) menjanjikan pemerintahan yang "berorientasi pelayanan" yang akan "lebih berhati-hati" dalam kehidupan masyarakat.

Ia berusaha menjadikan pendekatan yang lebih terukur sebagai keunggulan. Namun, sejak awal dihantui oleh serangkaian perubahan haluan dan kesalahan langkah, yang bahkan membuat marah para pendukung Partai Buruh, mantan pengacara hak asasi manusia ini, kesulitan untuk menjadi sosok yang dapat diandalkan seperti yang ia klaim.

Sikapnya yang ilmiah dan santai serta kurangnya ideologi juga membuat para pemilih menjauh.

Starmer telah dipuji karena berani menentang Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait perang Iran dan mempertahankan dukungan Eropa untuk Ukraina. Sebagian orang juga menyambut baik langkah-langkahnya untuk memperkuat hubungan dengan Uni Eropa, setelah referendum Brexit 2016.

Ia menyoroti pencapaiannya pada hari Senin (22/6), termasuk penurunan daftar tunggu untuk Layanan Kesehatan Nasional.

Namun, kolom-kolom yang sangat pedas di media Inggris menggambarkan Starmer sebagai sosok yang kurang teguh pendirian, yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan penting dan siap mengorbankan orang lain.

Popularitasnya terus merosot akibat ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi, tingginya biaya hidup, masalah layanan publik, dan berbagai kontroversi yang membayangi pemerintahannya.

Puncaknya, ketika setelah rival utamanya, Andy Burnham, berhasil memenangkan pemilihan sela parlemen pada pekan lalu. Kemenangan Burnham dipandang sebagai sinyal bahwa banyak anggota Partai Buruh melihatnya sebagai figur yang lebih mampu mengembalikan elektabilitas partai yang terus menurun di bawah kepemimpinan Starmer.

Burnham kini menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan Starmer.

Dalam pidato pengunduran dirinya pada Senin (22/6), Starmer mengatakan sudah jelas bahwa Partai Buruh yang dipimpinnya, menginginkan dirinya untuk mundur.

"Partai saya kini mempertanyakan apakah saya masih merupakan sosok yang paling tepat untuk memimpin kami menghadapi pemilihan umum berikutnya. Saya telah mendengar jawaban dari rekan-rekan saya di Partai Buruh mengenai pertanyaan tersebut, dan saya menerima keputusan itu dengan lapang dada," kata Starmer.

"Setiap keputusan yang saya ambil adalah untuk mengutamakan negara yang saya cintai. Itulah mengapa saya akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh," ucapnya.

Starmer menambahkan bahwa dirinya telah berbicara dengan Raja Inggris Charles III pada Senin (22/6) pagi sebelum mengumumkan pengunduran dirinya ke publik.

"Saya telah berbicara dengan Yang Mulia Raja pagi ini untuk memberitahukan keputusan saya," ujarnya.

Pengunduran diri Starmer ini membuka jalan bagi Inggris untuk memiliki PM baru, yang akan menjadi PM ke-7 dalam satu dekade terakhir. Ini menandai tingkat pergantian pemimpin yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern Inggris.

Lihat juga Video: PM Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait