Hubungan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Perdana Menteri Italia, Giorgio Meloni, kini merenggang. Padahal, keduanya sangat akrab di awal kepemimpinan Trump.
Dirangkum detikcom, Minggu (21/6/2026), Meloni dan Trump awalnya memulai hubungan dengan baik. Kedua pemimpin tersebut memiliki kesamaan ideologi dalam banyak isu.
Sebagai kepala partai sayap kanan, Meloni menyampaikan dukungan pembatasan migrasi dan mempromosikan nilai-nilai tradisional. Beberapa minggu sebelum pelantikan Trump pada tahun 2025, Meloni bertemu Trump di Mar-a-Lago, sebuah kunjungan yang menurutnya 'melampaui ekspektasi'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, Meloni mengatakan 'Ini adalah kesempatan untuk mengukuhkan hubungan yang menjanjikan akan sangat solid'. Beberapa bulan setelah itu, Trump berulang kali memuji Meloni sebagai sosok yang 'fantastis, luar biasa, cantik, dan seorang teman'.
Dilansir Reuters, Meloni juga menjadi satu-satunya pemimpin Eropa yang diundang menghadiri pelantikan Trump untuk masa jabatan keduanya sebagai Presiden AS pada tahun 2025. Satu setengah tahun kemudian, hubungan Trump dan Meloni mulai berantakan.
Perang yang dimulai AS dan Israel terhadap Iran telah membuat sikap Meloni berubah. Salah satu yang paling mencolok ialah ketika Trump menyerang Paus Leo atas kritiknya terhadap konflik tersebut. Meloni membela Paus Leo dan menyebut sikap Trump terhadap Paus tidak dapat diterima.
Meloni juga menolak mengizinkan penggunaan pangkalan Italia di Sisilia untuk pesawat militer AS yang membawa senjata untuk perang di Iran. Meloni mengatakan bahwa AS tidak mengikuti prosedur yang diperlukan.
Pengamat politik dari Policy Sonar, Francesco Galietti, mengatakan Meloni mungkin mendapat keuntungan di dalam negeri karena menentang Trump yang sangat tidak populer dalam jajak pendapat Italia. Tetapi Meloni berisiko kehilangan salah satu pilar narasi politiknya menjelang pemilihan yang akan diadakan tahun depan.
Trump kemudian mengkritik Meloni dan Italia sebagai kegagalan untuk membantu AS dalam konflik dengan Iran. Sebagian besar pemimpin Eropa memang berusaha untuk tidak ikut campur urusan AS dengan Iran.
Perseteruan gegara Urusan Foto
Terbaru, Trump dan Meloni kembali terlibat perselisihan. Kali ini, perseteruan dipicu ucapan Trump yang menyebut Meloni 'mengemis' meminta foto bersama dirinya dalam KTT G7 di Prancis.
Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Italia La7 minggu ini, Trump mengklaim Meloni telah 'mengemis' kepadanya untuk berfoto di KTT tersebut dan dia menurutinya karena merasa kasihan padanya.
"Dia memohon kepada saya untuk berfoto dengannya. Dia sangat ingin berfoto dengan saya. Saya tidak akan melakukannya, tetapi saya merasa kasihan padanya," katanya.
Meloni langsung membantah komentar tersebut dalam sebuah video bernada tajam yang diunggah Jumat pagi. Dia mengatakan komentar itu pantas mendapatkan 'tanggapan segera'.
"Pernyataan Donald Trump sepenuhnya dibuat-buat. Terus terang, saya terkejut. Saya tidak tahu mengapa presiden Amerika Serikat berperilaku seperti ini terhadap sekutunya sendiri, dan ini bukan pertama kalinya hal itu terjadi," katanya dalam video yang diunggah di X.
"Saya hanya bisa mengatakan bahwa sangat disayangkan dia tidak memiliki tekad yang sama terhadap musuh-musuh Barat, terhadap musuh-musuh Amerika Serikat, terhadap kepemimpinan yang justru tampak jauh lebih akomodatif baginya. Tetapi Anda harus ingat satu hal: Italia dan saya tidak pernah mengemis," sambung Meloni.
Trump kembali menulis soal Meloni di media sosial. Dia menyebut Meloni berulang kali minta foto bareng.
"Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni berulang kali meminta untuk berfoto bersama saya selama pertemuan G-7 di Prancis. Popularitasnya di Italia menurun, mungkin karena ia menolak Amerika Serikat, negara yang benar-benar mencintai dan melindungi Italia, ketika menyangkut upaya mencegah Iran memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir (tetapi NATO juga melakukan hal yang sama)," tulis Trump di media sosialnya.
Meloni langsung menepis Trump dengan menyatakan ucapannya tidak masuk akal. Dia menyarankan Trump fokus pada popularitas sendiri daripada popularitasnya.
Meloni mengatakan popularitasnya bertahan karena 'kemampuannya untuk membela kepentingan nasional Italia'. Dia menyebut hal itu adalah alasan mengapa dia menolak akses AS ke pangkalan militer Italia awal tahun ini.
"Presiden Trump, serangan terus-menerus dan tidak beralasan ini tidak masuk akal," tulis Meloni di Facebook pada Sabtu malam. Dia menambahkan bahwa persahabatannya dengan pemimpin AS tidak pernah berkontribusi pada popularitasnya, seperti yang diklaim Trump.
"Bagaimanapun, popularitas saya bukanlah urusan Anda. Saya sarankan Anda fokus pada popularitas Anda sendiri," sambung Meloni.










































