Tak Ada yang Tersisa Saat Pesawat Bomber B-52 Jatuh di AS

Tak Ada yang Tersisa Saat Pesawat Bomber B-52 Jatuh di AS

Haris Fadhil - detikNews
Rabu, 17 Jun 2026 06:45 WIB
Pesawat pembom (bomber) B-52 mengalami kecelakaan tak lama setelah lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Edwards
Foto: Penampakan area lokasi jatuhnya pesawat pembom B-52 di AS (Reuters)
Los Angeles -

Pesawat pembom atau bomber B-52 Stratofortress milik Amerika Serikat (AS) jatuh tak lama setelah lepas landas. Pesawat tersebut hancur dan menewaskan delapan orang yang ada di dalamnya.

Dilansir CNN, Selasa (16/6/2026), pesawat tersebut jatuh tak lama setelah lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Edwards, timur laut Los Angeles, AS pada Senin (15/6) waktu setempat. Pesawat itu hendak menjalani misi uji coba untuk modernisasi radar.

Pesawat awalnya lepas landas pukul 11.20 waktu setempat. Pesawat kemudian jatuh dan menyisakan bekas hangus besar di landasan pacu berpasir. Asap hitam membubung tinggi dari lokasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini tragis dan tidak mungkin selamat," kata Kolonel James Hayes dari pangkalan udara tersebut dalam konferensi pers dilansir CNN.

Awak pesawat itu terdiri dari campuran pejabat militer, warga sipil pemerintah, dan kontraktor pemerintah. Produsen pesawat tersebut, Boeing, mengatakan ada dua karyawannya yang berada di penerbangan tersebut.

"Kami telah menghubungi keluarga mereka dan menawarkan dukungan," kata Boeing dalam sebuah pernyataan.

Sekretaris Angkatan Udara AS, Troy E Meink, dan Ketua DPR AS, Mike Johnson, menyampaikan belasungkawa mereka di media sosial atas kecelakaan tersebut. Pangkalan udara lokasi kecelakaan itu telah dibuka kembali. Namun, para pejabat menghentikan operasi hingga hari Selasa (16/6).

Militer AS juga mulai menyelidiki apa yang terjadi. Meski demikian, detail pastinya tidak akan tersedia untuk publik selama sekitar enam bulan.

Spesifikasi Pesawat Pembom B-52

Dikutip dari CNN, situs US Air Force dan Boeing, pesawat B-52 sudah menjadi tulang punggung pembom AS selama lebih dari 60 tahun. Pesawat buatan Boeing itu dapat menjatuhkan bom gravitasi, bom kluster, rudal berpemandu presisi, dan amunisi serangan langsung gabungan.

Pesawat itu juga mampu mengangkut bom nuklir. Angkatan Udara AS diperkirakan akan mengoperasikan B-52 hingga tahun 2050.

B-52A sendiri pertama kali terbang pada tahun 1954 dan model B mulai beroperasi pada tahun 1955. Sebanyak 744 B-52 dibangun, dengan yang terakhir, B-52H, dikirim pada Oktober 1962.

Pesawat B-52H pertama dari 102 unit dikirim ke Komando Udara Strategis pada Mei 1961. Model H dapat membawa hingga 20 rudal jelajah yang diluncurkan dari udara.

Fleksibilitas pesawat ini terlihat dalam Operasi Badai Gurun atau Perang Teluk dan selama Operasi Allied Force di Yugoslavia. B-52 menyerang konsentrasi pasukan di area luas, instalasi tetap dan bunker, serta menghancurkan Garda Republik Irak.

Pada tanggal 2-3 September 1996, dua pesawat B-52H menyerang pembangkit listrik dan fasilitas komunikasi Baghdad dengan 13 rudal jelajah konvensional AGM-86C (CALCM) sebagai bagian dari Operasi Desert Strike.

Saat itu, pesawat B-52 mencatat jarak terjauh yang ditempuh untuk misi tempur dengan melibatkan perjalanan pulang pergi selama 34 jam sejauh 16.000 mil dari Pangkalan Angkatan Udara Barksdale, Louisiana.

Pada tahun 2001, B-52 juga digunakan pada Operasi Enduring Freedom di Afghanistan. B-52 juga berperan dalam Operasi Iraqi Freedom dengan meluncurkan sekitar 100 CALCM atau peluru kendali jelajah selama misi malam hari pada tanggal 21 Maret 2003.

Pada tahun 2016, B-52 kembali ke wilayah tanggung jawab Komando Pusat untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Pesawat B-52 menerbangkan sekitar 1.800 sorti tempur melawan pasukan ISIS di Suriah dan Irak.

Kini, hanya model H yang masih digunakan Angkatan Udara dan ditugaskan ke Sayap Bom ke-5 di Pangkalan Angkatan Udara Minot, Dakota Utara, dan Sayap Bom ke-2 di Pangkalan Angkatan Udara Barksdale, Louisiana, yang berada di bawah Komando Serangan Global Angkatan Udara. Pesawat ini juga ditugaskan ke Sayap Bom ke-307 Komando Cadangan Angkatan Udara di Pangkalan Angkatan Udara Barksdale.

Pesawat ini dilengkapi delapan mesin turbofan Pratt & Whitney TF33-P-3/103 dengan daya dorong setiap mesin hingga 17.000 pon atau 7.711 kilogram. Pesawat tersebut punya rentang sayap 56,4 meter dengan panjang pesawat 48,6 meter.

Pesawat punya tinggi 12,4 meter dan berat 83.915 kilogram. Pesawat ini punya berat lepas landas maksimum hingga 221.353 kilogram.

Kapasitas bahan bakarnya mencapai 141.610 kilogram dengan muatan hingga 31.751 kilogram. Pesawat dapat melaju dengan kecepatan mach 0,88 dan jangkauan 7.647 mil laut. Pesawat dapat beroperasi pada ketinggian maksimum 15.240 meter. Harga satu unit pesawat ini mencapai USD 84 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun.

Lihat juga Video: Pesawat Bomber B-52 AS Jatuh di California, 8 Awak Tewas

Halaman 4 dari 3
(haf/fas)


Berita Terkait