Amerika Serikat mengatakan telah menembak jatuh beberapa drone Iran yang disebut menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz pada Sabtu (13/6) pagi waktu setempat. Ini terjadi beberapa jam setelah kedua pihak mengatakan kesepakatan untuk mengakhiri perang Timur Tengah semakin dekat.
Dilansir kantor berita AFP dan Al Arabiya, Sabtu (13/6/2026), Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), yang mengawasi operasi di wilayah tersebut, memposting di media sosial X bahwa Iran telah "meluncurkan beberapa drone serang satu arah dalam upaya untuk menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasukan AS telah menembak jatuh semuanya dalam beberapa jam terakhir seiring arus lalu lintas melalui selat tersebut terus berlanjut tanpa hambatan," kata CENTCOM.
CENTCOM menambahkan bahwa selat tersebut - jalur perdagangan maritim utama untuk minyak dan gas dari Teluk - "tetap terbuka untuk transit," meskipun ada blokade yang diberlakukan Iran sejak awal perang.
Peristiwa tersebut terjadi setelah berminggu-minggu pembicaraan yang tersendat antara Teheran dan Washington, yang dimediasi oleh Pakistan, yang ditandai dengan ancaman dan baku tembak, meskipun gencatan senjata yang rapuh telah disepakati pada bulan April lalu.
Pada Jumat (12/6), Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menguraikan garis besar potensi nota kesepahaman dengan Washington yang, jika kemungkinan terwujud, dapat diikuti dengan kesimpulan perjanjian antara kedua belah pihak.
Dia mengatakan bahwa usulan memorandum kesepahaman itu akan secara resmi mengakhiri konflik di semua front, termasuk Lebanon. Iran sekaligus meletakkan dasar untuk negosiasi tentang pencabutan sanksi, program nuklir, dan pengaturan keamanan regional.
Dilansir Anadolu Agency, Sabtu (13/6/2026), berbicara dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi pemerintah IRIB, Araghchi mengatakan dokumen yang disebut sebagai Memorandum Kesepahaman Islamabad itu, akan menandai berakhirnya perang secara resmi.
"Berakhirnya perang akan diumumkan di semua front, termasuk Lebanon," katanya.
Araghchi mengatakan fase kedua negosiasi diperkirakan akan berlangsung selama 60 hari, tetapi mungkin diperpanjang jika kedua belah pihak puas dengan kemajuan yang dicapai.
Namun, jika kemajuan yang cukup tidak tercapai, proses tersebut tidak akan menghasilkan perjanjian akhir, kata pejabat itu. Dalam hal itu, katanya, situasi akan kembali ke keadaan sebelum nota kesepahaman.
Lihat Video 'Trump Klaim Tewaskan Pemimpin Geng Tren de Aragua di Venezuela':











































