Hacker Iran Klaim Retas Drone FBI-Ancam Targetkan Piala Dunia

Hacker Iran Klaim Retas Drone FBI-Ancam Targetkan Piala Dunia

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 12 Jun 2026 17:55 WIB
Ilustrasi (dok. Shutterstock)
Ilustrasi (dok. Shutterstock)
Washington DC -

Sebuah kelompok hacker terkait Iran mengklaim telah meretas drone-drone milik Biro Investigasi Federal (FBI) di Amerika Serikat (AS). Kelompok hacker itu juga mengancam untuk menargetkan Piala Dunia yang mulai digelar di AS pekan ini.

Klaim tersebut, seperti dilansir AFP, Jumat (12/6/2026), dilaporkan oleh SITE Intelligence Group, organisasi yang memantau kelompok jihadis, yang mempublikasikan pernyataan dari kelompok hacker bernama Handala.

Dalam pernyataannya, Handala mengklaim bahwa mereka telah memiliki akses "selama berbulan-bulan" ke "setiap gambar dan setiap tersangka" yang ditangkap oleh drone first-person view (FPV) yang digunakan oleh FBI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para hacker itu mengatakan bahwa drone-drone tersebut dilengkapi dengan teknologi pengenalan wajah dan pemeriksaan plat nomor yang digunakan untuk operasi kontra-terorisme.

"Sebaiknya perketat keamanan Piala Dunia Anda, kami sama sekali tidak menyukai beberapa tim tersebut. Jangan lupa: FPV ada di mana-mana; Anda tidak pernah tahu kapan salah satunya mungkin berakhir tepat di bus tim Anda," kata Handala dalam pernyataan yang dikutip SITE.

FBI mengerahkan sejumlah drone di sekitar stadion Piala Dunia untuk melindungi dari pesawat-pesawat yang tidak berizin.

Penerbangan drone akan dilarang di atas stadion-stadion AS yang menjadi tuan rumah pertandingan, serta di atas lokasi acara penggemar yang masih terkait Piala Dunia yang dimulai pada Kamis (11/6) waktu setempat.

Departemen Kehakiman AS sebelumnya telah memperingatkan potensi serangan siber oleh para hacker Iran, menyusul perang yang berkecamuk di Timur Tengah antara AS dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu.

Handala mempublikasikan foto-foto dan rekaman video yang, menurut mereka, diambil dari drone-drone FBI yang diretas. Namun SITE membantah klaim tersebut.

Salah satu video yang diduga hasil peretasan tersebut, menurut SITE, sebenarnya diproduksi oleh platform perangkat lunak pada Desember 2024 untuk mempromosikan penggunaan teknologi oleh departemen kepolisian AS untuk survei kerusakan akibat tornado.

Pada Maret lalu, Handala mengklaim telah meretas akun email Direktur FBI Kash Patel dan mempublikasikan foto-foto pribadi, serta materi lainnya, secara online.

Departemen Luar Negeri AS telah menawarkan imbalan hingga US$ 10 juta, atau setara Rp 178,4 miliar, untuk informasi yang mengarah pada identifikasi anggota-anggota kelompok hacker tersebut.

Simak juga Video 'Trump Batalkan Serangan ke Iran, Klaim Kesepakatan Bakal Tercapai':

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait