Ribuan warga Iran yang ada di kota pelabuhan Sirik, bagian selatan negara tersebut, kehilangan akses air minum setelah serangan terbaru Amerika Serikat (AS) menghantam dua waduk yang ada di wilayah tersebut.
Militer AS pekan ini melancarkan serangan udara terhadap kota-kota di Iran bagian selatan, seperti Jask dan Sirik, serta Pulau Qeshm di perairan Selat Hormuz.
Washington menyebut serangannya ini sebagai serangan "pertahanan diri" untuk merespons ditembak jatuhnya sebuah helikopter Apache, yang dioperasikan militer AS, oleh Iran di perairan Teluk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otoritas Teheran, seperti dilansir AFP, Rabu (10/6/2026), melaporkan bahwa serangan-serangan AS itu memicu kerusakan pada dua waduk yang memasok air ke area Bemani dan Kouhestak di kota Sirik.
"Sayangnya, serangan serangan ini, sebanyak 20.000 penduduk di wilayah tersebut kehilangan akses air minum yang aman, dan dengan suhu antara 45 hingga 50 derajat Celsius, kondisinya menjadi sangat sulit dan kritis bagi penduduk setempat," kata para pejabat perusahaan air setempat, seperti disiarkan televisi pemerintah Iran.
"Kerusakan pada waduk-waduk ini telah menciptakan masalah besar bagi jaringan pasokan air di wilayah tersebut," sebut para pejabat tersebut, sembari menekankan bahwa wilayah tersebut kekurangan air tanah untuk mengganti pasokan waduk yang rusak.
Seorang pejabat senior perusahaan air di Provinsi Hormozgan, yang menjadi lokasi kota Sirik, Abdolhamid Hamzehpour, mengatakan bahwa upaya-upaya sedang dilakukan untuk mencari alternatif bagi desa-desa yang terkena dampak insiden itu.
Iran mengutuk serangan AS itu sebagai serangan yang dilancarkan "dengan dalih palsu".
Teheran membalasnya dengan gelombang serangan rudal serta drone terhadap pangkalan-pangkalan militer AS yang ada di Bahrain, Yordania, dan Kuwait.











































