Gelombang panas melanda wilayah Eropa bagian barat, termasuk Prancis. Pemerintah Prancis melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas akibat serangkaian insiden terkait gelombang panas tersebut.
"Yang dapat saya katakan hari ini adalah bahwa ada tujuh kematian yang secara langsung atau tidak langsung terkait dengan suhu panas," kata juru bicara pemerintah Prancis, Maud Bregeon, saat berbicara kepada stasiun televisi lokal TF1, seperti dilansir AFP, Selasa (26/5/2026).
Lima kematian di antaranya, menurut Bregeon, melibatkan insiden tenggelam.
Dalam pernyataannya, Bregeon menambahkan bahwa jumlah kematian dan penyebabnya secara spesifik perlu "diklarifikasi setelah episode yang sedang kita alami saat ini berakhir".
Gelombang panas yang melanda Prancis telah mencetak rekor untuk suhu tertinggi di berbagai wilayah negara tersebut.
Otoritas Prancis memperkirakan gelombang panas akan meningkat pada Selasa (26/5) waktu setempat, dengan delapan departemen di wilayah Prancis bagian barat telah merilis peringatan suhu panas level 'oranye' -- yang pertama untuk bulan Mei.
Kantor Bregeon mengatakan kepada AFP bahwa insiden tenggelam terjadi di berbagai daerah di Prancis, mulai dari Lyon bagian tenggara hingga pantai Atlantik.
Suhu tinggi pada Senin (25/5) waktu setempat mendorong banyak orang mendatangi pantai-pantai di Prancis untuk mendinginkan diri di air. Namun situasi ini mengkhawatirkan mengingat aktivitas pengawasan penjaga pantai belum akan dimulai di banyak area hingga Juli mendatang.
"Kami baru saja bertanya-tanya pagi ini apakah pantai itu diawasi," kata seorang warga bernama Thomas Dupuy kepada AFP saat mengunjungi sebuah pantai di kota Anglet di barat daya Prancis, bersama dua anaknya yang masih kecil.
"Saya sangat berhati-hati untuk diri saya sendiri, untuk anak-anak saya yang belum bisa berenang. Kita mengetahui arus dapat menyeret kita keluar, pantai-pantai Atlantik berbahaya," ucapnya.











































