Sumpah Trump Vs Titah Mojtaba Khamenei Perkara Uranium

Sumpah Trump Vs Titah Mojtaba Khamenei Perkara Uranium

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 23 Mei 2026 07:30 WIB
Fasilitas Pengayaan Uranium Natanz, Iran. (Reuters)
Fasilitas Pengayaan Uranium Natanz, Iran. (Reuters)
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) dan Iran masih memanas perkara pasokan uranium. Presiden AS dan Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei sama-sama bersikeras atas pengayaan uranium.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) sebelumnya menetapkan lima syarat utama untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Syarat-syarat Washington itu mencakup pembatasan fasilitas nuklir Teheran dan pasokan uranium Iran diserahkan kepada AS.

Dilansir Anadolu Agency, persyaratan AS untuk Iran itu diungkap kantor berita Iran, Fars News Agency, dalam laporannya pada Minggu (17/5) waktu setempat.

Salah satu syarat yang ditetapkan AS, menurut media Fars News Agency, menyatakan bahwa AS "hanya mengizinkan satu fasilitas nuklir Iran untuk tetap beroperasi".

Empat syarat Washington lainnya, menurut Fars News Agency, mencakup penolakan untuk membayar kompensasi atau ganti rugi apa pun terkait perang, menuntut transfer 400 kilogram uranium Iran ke AS, menahan pelepasan 25 persen aset Iran yang dibekukan di luar negeri, dan menjadikan penghentian perang di semua front sebagai hasil negosiasi.

Adapun Iran menetapkan lima syarat yang diajukan untuk perundingan damai dengan AS terpenuhi. Persyaratan Teheran diungkap seorang sumber yang mengetahui informasi tersebut yang dikutip oleh Fars News Agency.

Menurut laporan Fars News Agency, lima syarat yang ditetapkan Teheran itu mencakup "mengakhiri perang di semua front, terutama Lebanon", mencabut sanksi-sanksi, melepaskan aset-aset Iran yang dibekukan, memberikan kompensasi atas kerusakan perang, dan "pengakuan hak kedaulatan Iran atas Selat Hormuz".

Trump Bersumpah Akan Dapatkan Uranium

Trump bersumpah, Washington akan mendapatkan persediaan uranium yang diperkaya milik Iran, meskipun Teheran berulang kali menegaskan tidak akan menyerahkan material tersebut.

"Kita akan mendapatkan uranium yang sangat diperkaya; kita akan mendapatkannya," tegas Trump saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, seperti dilansir Al Arabiya dan Anadolu Agency, Jumat (22/5).

"Kita akan mendapatkannya. Kita tidak membutuhkannya, kita tidak menginginkannya. Kita mungkin akan menghancurkannya setelah mendapatkannya, tetapi kita tidak akan membiarkan mereka memilikinya," ucap Presiden AS itu.

Iran diyakini memiliki sekitar 900 pon pasokan uranium yang sangat diperkaya, yang menurut Trump telah terkubur usai bombardir AS dan Israel hampir setahun yang lalu.

Memperoleh pasokan uranium itu merupakan bagian dari tujuan utama Trump dalam perang yang dikobarkan AS dan Israel, melawan Iran.

Ketika berbicara wartawan di Gedung Putih pada Kamis (22/5) waktu setempat, Trump kembali menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

"Saat ini, kita sedang bernegosiasi, dan kita akan melihat, tetapi kita akan mendapatkannya dengan cara apa pun. Mereka (Iran-red) tidak akan memiliki senjata nuklir," kata Trump.

Mojtaba Khamenei: Uranium Diperkaya Harus Tetap di Iran

Mojtaba Khamenei dalam arahan terbarunya menegaskan bahwa uranium diperkaya yang nyaris mencapai level senjata, tidak seharusnya dikirimkan ke luar negeri.

Arahan terbaru itu, seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya, Jumat (22/5/2026), disampaikan oleh dua sumber senior Iran, yang enggan disebut namanya. Arahan Mojtaba ini mempertegas sikap Teheran terhadap salah satu tuntutan utama AS dalam perundingan damai yang dimediasi oleh Pakistan.

Perintah Mojtaba itu bisa semakin membuat frustrasi Presiden AS Donald Trump dan mempersulit perundingan untuk mengakhiri perang yang berkecamuk sejak akhir Februari lalu.

"Arahan pemimpin tertinggi, dan konsensus di dalam pemerintahan, adalah agar pasokan uranium yang diperkaya tidak boleh meninggalkan negara ini," ungkap salah satu dari dua sumber senior Iran, yang menolak disebut namanya karena sensitivitas masalah ini.

Para pejabat tinggi Iran, menurut kedua sumber senior tersebut, meyakini bahwa pengiriman uranium diperkaya itu ke luar negeri akan membuat Teheran lebih rentan terhadap serangan AS dan Israel di masa depan.

Halaman 2 dari 3
(idn/rfs)


Berita Terkait