Imbas Wabah Ebola, Pesawat Tujuan AS Terpaksa Belok ke Kanada

Imbas Wabah Ebola, Pesawat Tujuan AS Terpaksa Belok ke Kanada

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 22 Mei 2026 16:20 WIB
Ilustrasi (dok. Unsplash/Gary Lopater)
Ilustrasi (dok. Unsplash/Gary Lopater)
Montreal -

Penerbangan maskapai Air France yang mengudara ke Detroit, Amerika Serikat (AS), terpaksa dialihkan ke Kanada setelah seorang penumpang dari Kongo kedapatan berada dalam penerbangan tersebut di tengah wabah Ebola yang melanda Afrika Tengah.

Insiden ini terjadi saat otoritas Washington memberlakukan pembatasan terbaru yang mencegah setiap orang, tanpa paspor AS, yang pernah melakukan perjalanan ke Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan dalam tiga pekan terakhir untuk memasuki negara tersebut.

Juru bicara Otoritas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP), seperti dilansir NBC News, Jumat (22/5/2026), mengatakan bahwa pihaknya mengambil "tindakan tegas" dengan melarang penerbangan itu mendarat di Bandara Metropolitan Wayne County di Detroit, Michigan, pada Rabu (20/5) waktu setempat.

"Karena pembatasan masuk yang diberlakukan untuk mengurangi risiko virus Ebola, penumpang tersebut tidak seharusnya naik pesawat," kata juru bicara CBP dalam sebuah pernyataan.

Juru bicara CPB mengatakan bahwa maskapai Air France menaikkan penumpang dari Kongo itu "secara keliru ke penerbangan tujuan Amerika Serikat". Namun, tidak disebutkan lebih lanjut oleh CBP soal kapan terakhir kali penumpang tersebut berada di Kongo.

Penerbangan itu akhirnya mendarat di Montreal, Kanada. Otoritas Bandara Internasional Montreal-Trudeau mengonfirmasi bahwa penerbangan Air France dengan nomor 378 itu dialihkan "atas permintaan otoritas AS" setelah lepas landas dari Paris pada Rabu (20/5) waktu setempat.

Penerbangan itu mendarat di Montreal tak lama setelah pukul 17.00 ET.

"Tidak ada keadaan darurat medis di dalam pesawat, dan seperti semua maskapai penerbangan, Air France diwajibkan untuk mematuhi persyaratan masuk negara-negara yang dilayaninya," kata juru bicara maskapai Air France dalam pernyataannya.

Insiden ini terjadi setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengumumkan pada Senin (18/5) bahwa otoritas Washington akan membatasi masuknya orang-orang tanpa paspor AS yang pernah berada di Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan dalam tiga minggu terakhir. Pembatasan ini berlaku selama 30 hari ke depan sejak diumumkan.

Penumpang dari Kongo Tak Tunjukkan Gejala terkait Ebola

Badan Kesehatan Masyarakat Kanada dalam pernyataannya, seperti dilansir media AS lainnya, CBS News, mengumumkan bahwa penumpang dari Kongo itu telah diperiksa oleh petugas karantina dan dinyatakan tidak menunjukkan gejala apa pun terkait Ebola.

Penumpang yang tidak disebut namanya itu kemudian diterbangkan ke Paris.

Dengan adanya insiden ini, CDC dan koresponden medis CBS News, Dr Celine Gounder, yang seorang spesialis penyakit menular, menjelaskan bahwa Ebola hanya dapat menyebar jika seseorang menunjukkan gejala.

"Apakah orang-orang perlu khawatir tentang ini? Tidak. Anda tidak akan tertular Ebola hanya dengan duduk di sebelah seseorang yang tidak memiliki gejala di pesawat," tegas Dr Gounder yang pernah bertugas di Afrika Barat selama wabah Ebola sebelumnya.

Tonton juga video "Warga di Kongo Serang RS-Bakar Tenda Isolasi gegara Masalah Ebola"

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait