AS Dakwa Mantan Presiden Kuba Raul Castro Atas Pembunuhan

AS Dakwa Mantan Presiden Kuba Raul Castro Atas Pembunuhan

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 21 Mei 2026 13:20 WIB
Ilustrasi pengadilan (Foto: iStock)
Ilustrasi pengadilan (Foto: iStock)
Jakarta -

Mantan Presiden Kuba Raul Castro telah didakwa di Amerika Serikat atas pembunuhan. Sebuah peningkatan besar dalam kampanye tekanan Washington terhadap pemerintah komunis di negara itu.

Raul Castro, 94 tahun, terakhir kali muncul di depan umum di Kuba awal bulan ini, dan tidak ada bukti bahwa ia telah meninggalkan negara itu, atau bahwa pemerintah akan mengizinkannya untuk diekstradisi ke AS.

Dakwaan ini muncul ketika Presiden AS Donald Trump telah mendorong perubahan rezim di Kuba, di mana partai komunis telah berkuasa sejak kakak Raul, Fidel Castro memimpin revolusi pada tahun 1959.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir BBC, Kamis (21/5/2026), Raul Castro dijerat dakwaan konspirasi pembunuhan warga negara AS terkait insiden jatuhnya dua pesawat pada 1996, yang menewaskan empat orang di dekat perairan Florida, AS.

Dakwaan tersebut diumumkan oleh Departemen Kehakiman AS pada Rabu (20/5) waktu setempat. Selain Raul Castro, jaksa juga menjerat lima orang lainnya yang diduga terlibat dalam operasi penembakan jatuh pesawat sipil milik kelompok pengungsi Brothers to the Rescue tersebut.

Castro menjabat sebagai menteri pertahanan Kuba pada saat itu. Dakwaan tersebut termasuk pembunuhan dan perusakan pesawat.

Dalam sebuah pernyataan pada Rabu (20/5) pagi waktu setempat, Trump menyebut Kuba sebagai "negara nakal yang melindungi militer asing yang bermusuhan".

"Dari pantai Havana hingga tepi Terusan Panama, kita akan mengusir kekuatan-kekuatan yang melanggar hukum, kejahatan, dan campur tangan asing," kata Trump dalam sebuah acara di Akademi Penjaga Pantai di New London, Connecticut.

Sebelumnya, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengatakan pada hari Senin lalu, bahwa pulau itu tidak menimbulkan ancaman.

Dakwaan tersebut menandai titik terendah baru dalam hubungan antara kedua rival Perang Dingin yang telah lama berseteru.

Setelah berkuasa, Fidel Castro menjalin aliansi dengan Uni Soviet, kemudian menyita bisnis dan properti milik AS. Sejak itu, AS mempertahankan embargo ekonomi terhadap negara berpenduduk sekitar 10 juta jiwa tersebut.

Kedua pihak telah berbicara secara berkala selama bertahun-tahun. Hubungan diplomatik sempat membaik selama masa jabatan kedua mantan Presiden AS Barack Obama. Namun, Trump telah mengambil sikap yang lebih keras.

Tonton juga video "AS Dakwa Eks Presiden Raul Castro, Trump: Kami Sedang Membebaskan Kuba"

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait