Tegang! Arab Saudi Cegat 3 Drone yang Masuk dari Irak

Tegang! Arab Saudi Cegat 3 Drone yang Masuk dari Irak

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 18 Mei 2026 16:15 WIB
Ilustrasi (dok. AFP/OZAN KOSE)
Ilustrasi (dok. AFP/OZAN KOSE)
Riyadh -

Arab Saudi mengumumkan pertahanan udaranya telah mencegat dan menghancurkan tiga drone yang terdeteksi memasuki wilayah udara negara tersebut dari Irak. Riyadh menegaskan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk merespons insiden tersebut.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Turki al-Maliki, seperti dilansir TRT World dan Al Arabiya, Senin (18/5/2026), mengatakan bahwa drone-drone asing itu ditembak jatuh pada Minggu (17/5) pagi, setelah terdeteksi memasuki wilayah udara Saudi dari wilayah Irak.

Al-Maliki menekankan bahwa Kerajaan Saudi "berhak untuk merespons pada waktu dan tempat yang tepat".

"(Saudi) Akan mengambil dan menerapkan semua tindakan operasional yang diperlukan untuk merespons setiap upaya untuk melanggar kedaulatan, keamanan, dan keselamatan warga negara serta penduduk," kata Al-Maliki dalam pernyataannya.

Belum ada tanggapan langsung dari otoritas Irak terkait hal tersebut.

Pencegatan drone ini terjadi setelah bulan lalu, Kementerian Luar Negeri Saudi memanggil Duta Besar Irak di Riyadh terkait apa yang digambarkan sebagai serangan dan ancaman berkelanjutan yang menargetkan Saudi dan negara-negara Teluk lainnya menggunakan drone-drone yang diluncurkan dari Irak.

Sementara itu, pada hari yang sama, sebuah serangan drone memicu kebakaran di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Otoritas setempat melaporkan tidak ada korban luka atau dampak pada tingkat radiasi di lokasi.

"Otoritas di Abu Dhabi merespons insiden kebakaran yang terjadi pada generator listrik di luar perimeter dalam kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di wilayah Al Dhafra, yang disebabkan oleh serangan drone," demikian pernyataan Kantor Media Abu Dhabi, tanpa menyebut lebih lanjut sumber serangan tersebut.

Ketegangan regional meningkat sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Iran juga secara efektif membatasi aktivitas perlintasan di Selat Hormuz selama perang berkecamuk. AS merespons dengan memberlakukan blokade angkatan laut, sejak 13 April lalu, yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di jalur perairan strategis tersebut.

Gencatan senjata yang menangguhkan pertempuran diberlakukan sejak 8 April lalu, melalui mediasi Pakistan. Namun perundingan damai yang mengikutinya, gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen.

Gencatan senjata itu kemudian diperpanjang, secara sepihak oleh Presiden AS Donald Trump, tanpa atas waktu yang ditentukan. Namun, Trump menegaskan bahwa blokade laut AS tetap diberlakukan.

Lihat juga Video: Israel Gagal Cegat Drone Hizbullah, 7 Warganya Terluka

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait