Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Israel, Mike Huckabee, mengungkapkan bahwa Israel mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA) selama perang melawan Iran berkecamuk.
Informasi tersebut, seperti dilansir AFP, Rabu (13/5/2026), diungkapkan oleh Huckabee saat berbicara dalam sebuah konferensi di Tel Aviv University pada Selasa (12/5) waktu setempat. Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari otoritas UEA terkait pernyataan Huckabee tersebut.
Dikatakan oleh Huckabee bahwa baterai pertahanan udara Iron Dome, beserta para personel yang mengoperasikannya, dikerahkan ke UEA selama pertempuran melawan Iran berlangsung beberapa bulan lalu.
Dengan pernyataan Huckabee tersebut, maka UEA menjadi negara Timur Tengah pertama yang diketahui mengizinkan wilayahnya menjadi tempat beroperasinya sistem pertahanan udara canggih Iron Dome buatan Israel.
"Bolehkah saya menyampaikan apresiasi, apresiasi yang mendalam dan kekaguman kepada Uni Emirat Arab?" kata Huckabee saat berbicara dalam forum tersebut.
"Mereka merupakan anggota pertama dari Abraham Accords, tetapi lihatlah manfaat yang telah mereka peroleh sebagai hasilnya. Israel baru saja mengirimkan baterai Iron Dome dan para personel untuk membantu mengoperasikannya. Mengapa demikian? Karena ada hubungan yang luar biasa antara UEA dan Israel berdasarkan Abraham Accords," ungkapnya.
Abraham Accords, atau Perjanjian Abraham, merupakan kesepakatan yang ditandatangani oleh sejumlah negara Timur Tengah dengan Israel, dengan dimediasi oleh AS, yang memiliki tujuan utama untuk menormalisasi hubungan diplomatik dengan Tel Aviv.
UEA termasuk ke dalam empat negara mayoritas Muslim pertama yang menandatangani Abraham Accords pada masa jabatan pertama Trump tahun 2017-2021 lalu.
Pernyataan Huckabee itu muncul setelah laporan terbaru media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), mengungkapkan bahwa UEA secara diam-diam telah melancarkan serangkaian serangan balasan terhadap Iran.
Salah satu target serangan UEA, menurut sumber anonim yang dikutip WSJ dalam laporannya pada Senin (11/5), adalah sebuah kilang minyak di Pulau Lavan, Iran.
Laporan WSJ menyebut bahwa kilang minyak Iran itu dihantam serangan UEA pada awal April, atau ketika Trump akan mengumumkan gencatan senjata dengan Teheran. Serangan itu dilaporkan memicu kebakaran besar dan melumpuhkan fasilitas tersebut.
Selama perang berkecamuk antara AS dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu, negara-negara Teluk yang menampung aset militer Washington, termasuk UEA, menjadi target serangan balasan Teheran.
Iran, menurut laporan WSJ, menargetkan UEA dengan lebih banyak serangan dibandingkan negara-negara Teluk lainnya, bahkan melebihi serangan pembalasan terhadap Israel. Teheran tercatat telah melancarkan lebih dari 2.800 serangan rudal dan drone terhadap target-target di UEA sejak perang berkecamuk pada akhir Februari lalu.
Ketika gencatan senjata diberlakukan sejak awal April, UEA melaporkan beberapa serangan rudal dan drone dari wilayah Iran. Teheran membantah telah melancarkan serangan terhadap negara tetangganya tersebut selama gencatan senjata.
Tonton juga video "UNICEF: 70 Anak Palestina Tewas Sejak 2025, 93% karena Dibunuh Israel"











































