AS Usulkan Resolusi PBB soal Selat Hormuz, Iran Marah!

AS Usulkan Resolusi PBB soal Selat Hormuz, Iran Marah!

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 12 Mei 2026 14:42 WIB
Basij paramilitary force speed boats are sailing along the Persian Gulf during the Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) marine parade to commemorate Persian Gulf National Day, near the Bushehr nuclear power plant in the seaport city of Bushehr, Bushehr province, in the south of Iran, on April 29, 2024. Persian Gulf National Day, which celebrates the expulsion of the Portuguese from the Strait of Hormuz and the Persian Gulf in 1622 by the Safavid forces led by Imam Quli Khan under the command of Shah Abbas I, is observed on the 10th of Ordibehesht in the Iranian calendar, typically falling in late April or early May. (Photo by Morteza Nikoubazl/NurPhoto via Getty Images)
Ilustrasi -- Kapal paramiliter Iran berlayar di Teluk Persia, dekat Selat Hormuz (dok. NurPhoto via Getty Images/NurPhoto)
Teheran -

Pemerintah Iran mengecam keras upaya terbaru Amerika Serikat (AS) untuk meloloskan draf resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Selat Hormuz. Teheran menyebut draf usulan Washington itu sebagai upaya terang-terangan untuk memutarbalikkan fakta dan melindungi para agresor.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum, Kazem Gharibabadi, seperti dilansir Press TV, Selasa (12/5/2026), mengatakan bahwa AS, bersama dengan beberapa sekutu regionalnya, sekali lagi mencoba untuk "mengubah sudut pandang masalah".

Gharibabadi menilai draf resolusi usulan AS itu berusaha mengubah konsekuensi agresi militer dan pengepungan ilegal menjadi dakwaan terhadap Iran, yang menurutnya, telah menjadi korban ancaman, tekanan dan serangan langsung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kebebasan navigasi adalah prinsip hukum yang dihormati, tetapi tidak dapat ditafsirkan secara selektif, politis, dan terlepas dari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa," kata Gharibabadi dalam pernyataan via media sosial X pada Senin (11/5) malam.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, Gharibabadi menekankan bahwa inisiatif tulus apa pun terkait keamanan maritim di kawasan, tidak mungkin mengabaikan penggunaan kekerasan berulang kali, pemberlakuan blokade laut, ancaman yang terus berlanjut, dan peran langsung yang dimainkan oleh AS dan Israel dalam menciptakan krisis, sembari berpura-pura bertindak netral atau memiliki kredibilitas hukum.

Diperjelas oleh Gharibabadi bahwa masalah intinya bukanlah soal perlintasan kapal "dalam kevakuman", melainkan pemerintahan negara tertentu yang berupaya membingkai ulang hasil tindakan ilegal mereka dengan bahasa yang disebut "tatanan internasional".

"Pendekatan seperti itu tidak berkontribusi pada de-eskalasi, keamanan maritim, maupun kredibilitas mekanisme multilateral," ucapnya memperingatkan.

Gharibabadi menyimpulkan bahwa teks apa pun yang berupaya menggambarkan situasi di Selat Hormuz, tanpa secara secara eksplisit menyinggung soal agresi, pengepungan, ancaman kekerasan, dan hak sah Iran untuk mempertahankan keamanan serta kepentingan nasionalnya "akan cacat, bias, politis, dan pasti gagal sejak awal".

Pernyataan Gharibabadi itu disampaikan setelah AS melakukan pembicaraan tertutup dengan beberapa negara Teluk pekan lalu untuk mempromosikan draft resolusi usulannya tersebut.

Draft resolusi usulan AS itu menuntut Iran segera menghentikan apa yang disebut sebagai "serangan-serangan" di Selat Hormuz dan mengancam Teheran dengan sanksi baru, bahkan kemungkinan otorisasi penggunaan kekuatan jika menolak untuk mematuhi.

Tonton juga video "Trump Gelar Acara Makan Malam: Saya Mengesampingkan Iran Malam Ini"

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini