Iran Eksekusi Mati Pria yang Beri Info Rahasia ke CIA-Mossad

Iran Eksekusi Mati Pria yang Beri Info Rahasia ke CIA-Mossad

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 11 Mei 2026 14:43 WIB
Ilustrasi hukum gantung (Foto: Internet)
Ilustrasi hukum gantung (Foto: Internet)
Jakarta -

Otoritas Iran menyatakan telah menghukum gantung seorang pria yang dihukum mati karena menjadi mata-mata Israel dan Amerika Serikat. Ini merupakan eksekusi mati terbaru dalam gelombang eksekusi selama perang Iran dengan kedua musuhnya tersebut.

"Erfan Shakourzadeh... digantung karena berkolaborasi dengan dinas intelijen AS dan dinas mata-mata Mossad," kata situs web Mizan Online milik lembaga peradilan Iran pada hari Senin (11/5), dilansir kantor berita AFP, Senin (11/5/2026).

Situs tersebut tidak menyebutkan kapan ia dieksekusi mati atau kapan ia ditangkap. Namun, disebutkan bahwa pria itu bekerja di salah satu "organisasi ilmiah Iran yang aktif di bidang satelit".

Iran telah lama menghadapi tuduhan Barat bahwa program satelitnya digunakan untuk meningkatkan kemampuan rudal balistik.

Mizan melaporkan bahwa Shakourzadeh telah "dengan sadar dan sukarela" memberikan informasi rahasia kepada CIA dan Mossad.

Menurut kelompok-kelompok hak asasi manusia, Iran adalah negara dengan jumlah eksekusi mati terbanyak kedua di dunia setelah China.

Kelompok HAM yang berbasis di Norwegia, Iran Human Rights, mengatakan bahwa republik Islam tersebut mengeksekusi setidaknya 1.500 orang tahun lalu, salah satu angka tertinggi di dunia.

Diketahui bahwa Iran telah berperang dengan Israel dan Amerika Serikat sejak akhir Februari lalu, dengan gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April.

Sejak awal konflik, Iran telah meningkatkan eksekusi mati, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan dugaan spionase atau tuduhan terkait keamanan.

Sebelumnya pada pekan lalu, otoritas Iran mengeksekusi mati tiga pria yang dihukum karena terlibat dalam aksi protes anti-pemerintah yang mengguncang negara itu pada bulan Desember dan Januari.

Tonton juga video "Iran Siap Kejutkan AS dengan Metode Perang Baru Jika Diserang Lagi"

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait