Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan kembali "Project Freedom" di Selat Hormuz, yang dihentikan sementara oleh Presiden Donald Trump. Hal itu setelah Arab Saudi dan Kuwait mencabut pembatasan akses militer AS terhadap pangkalan dan wilayah udara kedua negara tersebut.
Project Freedom merupakan misi militer AS yang bertujuan memandu kapal-kapal dari negara-negara netral untuk melintasi Selat Hormuz secara aman, dimulai pada Senin (4/5) waktu setempat. Misi ini berpotensi menantang langkah Iran membatasi pelayaran di jalur perairan strategis tersebut.
Laporan media terkemuka AS Wall Street Journal (WSJ), yang mengutip sejumlah pejabat AS dan Saudi, seperti dilansir TRT World, Jumat (8/5/2026), menyebutkan bahwa pemerintahan Trump sedang bersiap untuk memulai kembali operasi pengawalan militer terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, dengan dukungan Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS.
Misi militer AS itu ditangguhkan sejak awal pekan ini setelah beroperasi selama 36 jam.
Menurut WSJ, para perencana kebijakan di Pentagon atau Departemen Pertahanan AS kini sedang menilai kerangka waktu untuk melanjutkan operasi pengawalan militer tersebut.
Beberapa pejabat AS, yang dikutip WSJ dalam laporannya, mengindikasikan bahwa misi pengawalan itu dapat dimulai kembali paling cepat minggu ini.
Pertimbangan semacam itu muncul setelah Saudi dan Kuwait mencabut pembatasan penggunaan pangkalan militer dan wilayah udara mereka oleh militer AS, yang diberlakukan setelah peluncuran Project Freedom oleh Washington yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz.
Langkah Saudi dan Kuwait itu menghilangkan hambatan signifikan bagi upaya Trump untuk mengamankan jalur pelayaran komersial melalui jalur perairan yang sangat penting secara strategis di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Aktivitas pelayaran melintasi Selat Hormuz secara efektif ditutup oleh Iran imbas pertempuran melawan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu. AS merespons dengan memberlakukan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di sekitar Selat Hormuz sejak pertengahan April lalu.
Pada Selasa (5/5) waktu setempat, Trump mengumumkan penghentian sementara Project Freedom untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Namun dia menegaskan bahwa blokade laut oleh AS tetap "berlaku sepenuhnya".
Selat Hormuz menjadi fokus perselisihan AS dan Iran selama perang berlangsung, terutama setelah gencatan senjata diberlakukan sejak 8 April yang kemudian diperpanjang, secara sepihak oleh Trump, tanpa batas waktu yang ditetapkan.
Perundingan damai yang digelar di Islamabad, Pakistan, menyusul gencatan senjata itu gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen.
Lihat juga Video: Trump Hentikan Sementara Project Freedom Pengawalan Kapal di Selat Hormuz











































