Menlu Jerman Desak Iran Buka Kembali Selat Hormuz

Menlu Jerman Desak Iran Buka Kembali Selat Hormuz

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 04 Mei 2026 12:54 WIB
Ilustrasi selat hormuz
Ilustrasi selat hormuz (Foto: Getty Images/iStockphoto/World Traveler)
Jakarta -

Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman Johann Wadephul mendesak Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan program senjata nuklirnya. Hal ini disampaikannya dalam percakapan telepon dengan Menlu Iran Abbas Araghchi.

"Saya menekankan bahwa Jerman mendukung solusi yang dinegosiasikan," kata Wadephul dalam sebuah unggahan di media sosial X tentang percakapan telepon pada hari Rabu (3/5) waktu setempat tersebut.

"Sebagai sekutu dekat Amerika Serikat, kami memiliki tujuan yang sama: Iran harus sepenuhnya dan secara terverifikasi melepaskan senjata nuklir dan segera membuka Selat Hormuz, seperti yang juga dituntut oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio," kata Wadephul, dilansir kantor berita AFP, Senin (4/5/2026).

Dalam beberapa hari terakhir, Wadephul dan para pejabat Jerman lainnya telah berusaha meredakan perselisihan antara Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz.

Merz mengatakan pada 27 April lalu, bahwa Iran "mempermalukan" Washington di meja perundingan. Komentar ini memicu serangkaian tanggapan marah dari Washington.

Sebagai respons, AS mengumumkan bahwa 5.000 tentaranya akan dipindahkan dari pangkalan militer AS di Jerman. Trump juga mengumumkan bahwa tarif AS untuk mobil dan truk dari Uni Eropa akan naik dari 15 persen menjadi 25 persen dalam beberapa hari mendatang.

Trump menuduh seluruh blok Uni Eropa gagal mematuhi kesepakatan perdagangan yang ditandatangani musim panas lalu, bahkan ketika pakta tersebut sedang melalui proses legislatif blok tersebut.

Tarif baru yang diumumkan tersebut akan sangat memukul industri mobil Jerman.

Sementara itu, upaya untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran tampaknya tidak menunjukkan kemajuan sejak gencatan senjata diberlakukan pada awal April lalu. Bahkan ada kekhawatiran yang meningkat tentang peningkatan eskalasi.

Trump mengatakan dia akan meninjau rencana baru yang diajukan oleh Teheran, tetapi menambahkan bahwa dia "tidak dapat membayangkan hal itu akan dapat diterima". Ia menambahkan bahwa, menurut pandangannya, Iran "belum membayar harga yang cukup mahal".

Dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu (3/5), Garda Revolusi Iran mengatakan Amerika Serikat harus memilih antara "operasi yang mustahil atau kesepakatan buruk dengan Republik Islam Iran".

Lihat juga Video NATO Tanggapi Ancaman AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait