Amerika Serikat (AS) dan Iran cekcok di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait program nuklir Teheran. AS memprotes terpilihnya Iran sebagai salah satu dari puluhan wakil presiden dalam konferensi selama sebulan untuk meninjau Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Konferensi ke-11 untuk meninjau implementasi NPT, yang mulai berlaku pada tahun 1970, seperti dilansir Reuters, Selasa (28/4/2026), dimulai pada Senin (27/4) waktu setempat di markas besar PBB di New York, AS.
Berbagai kelompok menominasikan 34 wakil presiden konferensi, dengan ketua konferensi, Duta Besar Vietnam untuk PBB Do Hung Viet, mengatakan bahwa Iran dipilih oleh "kelompok negara-negara non-blok dan negara-negara lainnya".
Asisten sekretaris untuk Biro Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi AS, Christopher Yeaw, mengatakan pada konferensi tersebut, bahwa terpilihnya Iran merupakan "penghinaan" terhadap NPT.
Dia mengatakan bahwa "tidak dapat disangkal bahwa Iran telah sejak lama menunjukkan penghinaan terhadap komitmen non-proliferasi NPT" dan telah menolak untuk bekerja sama dengan pengawas nuklir PBB untuk menyelesaikan pertanyaan tentang program nuklir Teheran.
Yeaw menyebut terpilihnya Iran sebagai "hal yang sangat memalukan dan mencoreng kredibilitas konferensi ini".
Dalam konferensi yang sama, Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Reza Najafi, menolak pernyataan AS sebagai "tidak berdasar dan bermotif politik".
"Tidak dapat dibenarkan bahwa Amerika Serikat, sebagai satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir, dan negara yang terus memperluas serta memodernisasi persenjataan nuklirnya... berupaya memposisikan diri sebagai penengah kepatuhan," kata Najafi.
Isu nuklir telah menjadi inti dari perang yang berkecamuk antara AS dan Israel melawan Iran, dengan Presiden Donald Trump menegaskan kembali pada Minggu (26/4) bahwa Teheran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Iran telah sejak lama menuntut AS mengakui haknya untuk memperkaya uranium, yang menurut Teheran hanya diupayakan untuk tujuan damai. Namun negara-negara kekuatan Barat mengkhawatirkan hal itu dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Iran telah berulang kali bersikeras bahwa mereka tidak mencari senjata nuklir. Tetapi IAEA dan komunitas intelijen Washington secara terpisah menilai bahwa Teheran memiliki program pengembangan senjata nuklir yang ditutup tahun 2003 silam.
Lihat juga Video 'Netanyahu Senang Trump Selamat dari Insiden Penembakan':











































