Proses perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terasa jauh panggang dari api. Waktu terkait perundingan damai selanjutnya masih belum pasti.
Sebagaimana diketahui, Mediator Pakistan menyampaikan mereka belum menerima tanggapan resmi dari Iran terkait keikutsertaan dalam putaran kedua pembicaraan dengan Amerika Serikat. Menteri Informasi Islamabad, Attaullah Tarar, mengatakan hingga saat ini pihaknya masih menunggu kepastian dari Iran.
"Tanggapan resmi dari pihak Iran tentang konfirmasi delegasi untuk menghadiri Perundingan Perdamaian Islamabad masih ditunggu," tulis Tarar melalui akun X miliknya dilansir AFP, Selasa (21/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan keputusan tersebut sangat penting, mengingat waktu gencatan senjata yang telah disepakati akan berakhir beberapa jam lagi.
Tarar menyebut, keputusan Iran akan menjadi penentu kelanjutan proses diplomasi, terutama menjelang berakhirnya masa gencatan senjata selama dua pekan antara pihak-pihak yang bertikai.
Trump Perpanjang Gencatan Senjata
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran. Namun, US Central Command atau CENTCOM menyatakan pasukannya tetap dalam situasi siaga.
CENTCOM merilis pesan di media sosial yang menyatakan pasukannya tetap siap. Pesan itu dikeluarkan tidak lama setelah Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata.
Disertai klip video yang menampilkan pesawat tempur, kapal, dan pasukan AS, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper tampil dalam konferensi pers terbaru bersama Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
"Kami sedang mempersenjatai kembali. Kami sedang memperbarui peralatan, dan kami sedang menyesuaikan taktik, teknik, dan prosedur kami," kata Cooper dalam konferensi pers itu dilansir Al Jazeera, Rabu (22/4).
"Tidak ada militer di dunia yang menyesuaikan diri seperti yang kami lakukan, dan itulah yang sedang kami lakukan saat ini selama gencatan senjata," sambungnya.
Trump sebelumnya telah mengumumkan untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Namun, Trump juga mengatakan kebijakan blokade pelabuhan Iran tetap akan dilanjutkan oleh militer AS.
"Saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu," kata Trump dilansir Al Jazeera, Rabu (22/4/2026).
Iran Tuding AS Ulur Waktu
Penasihat Ketua Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, kemudian merespons pengumuman sepihak dari Trump. Iran menyatakan perpanjangan gencatan senjata yang dilakukan AS tidak berarti apapun bagi mereka.
"Perpanjangan gencatan senjata Trump tidak berarti apa-apa," kata Mohammadi, dilansir CNN.
Mohammadi juga menilai perpanjangan gencatan senjata yang sepihak diumumkan Trump merupakan taktik AS dalam mengulur waktu sebelum akhirnya melanjutkan serangan ke wilayah Iran.
"Perpanjangan gencatan senjata Trump jelas merupakan taktik untuk mengulur waktu demi serangan mendadak. Saatnya bagi Iran untuk mengambil inisiatif telah tiba," katanya.
Iran Peringatkan AS
Komando operasional tertinggi pada militer Iran melontarkan peringatan keras pada Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk setiap serangan terbaru yang menargetkan Teheran, saat gencatan senjata sementara berakhir pekan ini.
Militer Iran menegaskan bahwa pembalasan terhadap agresi lanjutan oleh Washington dan Tel Aviv akan lebih keras, dan pasukan Teheran akan bertindak "segera" dalam menyerang target-target yang telah ditentukan.
Peringatan terbaru itu, seperti dilansir Press TV, Rabu (22/4/2026), dilontarkan oleh Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan operasional antara militer reguler Iran dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
"Pasukan kami yang cakap dan kuat telah siaga penuh sejak lama dan siap menyerang," kata juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari dalam pernyataan terbarunya.
"Jika terjadi agresi atau tindakan apa pun terhadap Republik Islam (Iran), mereka akan segera menyerang target-target yang telah ditentukan sebelumnya dengan kekuatan penuh dan menghadapi agresor Amerika dan rezim Zionis pembunuh anak-anak dengan pelajaran yang lebih keras dari sebelumnya," tegasnya.
Peringatan tersebut, sebut Zolfaghari, disampaikan "mengingat ancaman berulang dari Presiden AS dan para komandan militer agresif dan teroris dari negara tersebut".
Simak juga Video 'Trump: Tak Ada Kesepakatan dengan Iran Jika Blokade Selat Hormuz Dicabut'':











































