Niat Rusia Ambil Alih Uranium Iran Ditolak AS

Niat Rusia Ambil Alih Uranium Iran Ditolak AS

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 17 Apr 2026 06:09 WIB
A handout picture released by Irans Atomic Energy Organization on November 4, 2019, shows the atomic enrichment facilities Natanz nuclear research center, some 300 kilometres south of capital Tehran. (AFP)
Ilustrasi. situs nuklir Iran (Foto: AFP)
Jakarta -

Rusia berkeinginan untuk mengambil alih kepemilikan uranium yang diperkaya Iran sebagai solusi diplomatik untuk konflik yang terus berkelanjutan. Namun, niat ini langsung ditolak oleh Amerika Serikat (AS).

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, seperti dilansir Reuters dan Anadolu Agency, Kamis (16/4/2026), mengatakan bahwa Presiden Vladimir Putin telah mengajukan proposal tersebut beberapa waktu lalu, dan menggambarkannya sebagai "solusi yang sangat baik" yang pada akhirnya ditolak oleh pihak AS.

"Rusia siap menerima uranium yang diperkaya milik Iran di wilayahnya," kata Peskov kepada saluran televisi India Today, seperti dikutip kantor berita RIA.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini akan menjadi keputusan yang baik. Tetapi sayangnya pihak Amerika menolak proposal ini," ucapnya.

Peskov menambahkan bahwa Putin tetap bersedia mempertimbangkan kembali gagasan tersebut, jika negara-negara yang terlibat memintanya.

Laporan media baru-baru ini menyebut bahwa Rusia pertama kali mengajukan tawaran untuk mengambil alih stok uranium Iran itu pada Juni tahun lalu, namun tidak ada tindak lanjut. Moskow kembali mengajukan proposal tersebut pekan ini.

A satellite image shows a closer view of the Natanz Nuclear Facility with new building damage, amid the U.S.-Israeli conflict with Iran, near Natanz, Iran, March 2, 2026. Vantor/Handout via REUTERS    THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. NO RESALES. NO ARCHIVES. MUST NOT OBSCURE LOGO.     TPX IMAGES OF THE DAYSitus nuklir Iran dibom Amerika Serikat (AS). Foto: via REUTERS/VANTOR

Sementara laporan media-media AS, yang mengutip sumber-sumber tertentu, menyebutkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump telah menolak proposal Rusia. Sedangkan Iran dilaporkan mengatakan bahwa keputusan apa pun akan bergantung pada apakah mereka dapat mencapai kesepakatan dengan AS, termasuk mengenai program nuklirnya.

Washington sebelumnya menyebut pasokan uranium yang diperkaya milik Iran -- dan kemungkinan Teheran dapat memperoleh senjata nuklir -- sebagai dasar serangannya terhadap Iran.

Seorang wakil Menteri Luar Negeri Rusia tahun lalu menyatakan bahwa Rusia bersedia memindahkan pasokan uranium dari Iran, dan mengubahnya menjadi bahan bakar reaktor sipil, untuk membantu memfasilitasi negosiasi.

Pemindahan stok uranium yang diperkaya milik Iran menjadi salah satu tuntutan utama AS dalam perundingan damai untuk secara permanen mengakhiri perang yang berkecamuk sejak 28 Februari lalu. Sebagian besar material tersebut, diperkirakan sekitar 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga level 60 persen, terkubur di bawah situs nuklir Iran yang dibombardir AS dan Israel dalam perang pada Juni tahun lalu.

Situs Nuklir Diserang AS, Iran Balas Serang Tanker MinyakSitus nuklir Iran dibom AS. Foto: DW (News)

Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth mengatakan Iran akan menyerahkan stok tersebut secara sukarela atau AS akan mengambilnya dengan cara-cara lainnya.

Peskov, dalam pernyataannya, juga menolak pembenaran untuk perang antara AS-Israel melawan Iran. Ditegaskan Peskov bahwa Badan Energi Atom Internasional (IAEA), merupakan badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tidak pernah menemukan bukti soal Iran sedang membangun senjata nuklir.

Disebutkan oleh Peskov bahwa tuduhan semacam itu digunakan "sebagai dalih untuk agresi".

Saat ditanya lebih lanjut apakah Rusia memberikan informasi intelijen militer atau dukungan logistik bagi Iran, Peskov menegaskan: "Rusia tidak ikut serta dalam hal ini. Ini bukanlah perang kami."

Menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi, Moskow memberikan bantuan militer kepada Teheran "dalam berbagai arah", tanpa menyebutkan apakah itu mencakup intelijen tentang pasukan militer AS.

Utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, sebelumnya mengatakan bahwa Putin secara pribadi meyakinkan Trump bahwa Rusia tidak berbagi intelijen dengan Iran.

Saksikan Live DetikPagi:

Tonton juga video "Bahlil soal RI Beli Minyak ke Rusia: Boleh Belanja di Mana Saja"

Halaman 2 dari 3
(isa/lir)


Berita Terkait