Dokumen Diplomatik Jepang Bikin Korut Geram, Ada Apa?

Dokumen Diplomatik Jepang Bikin Korut Geram, Ada Apa?

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 15 Apr 2026 16:30 WIB
Kim Jong Un saat mengunjungi fasilitas nuklir Korut (Foto: AFP)
Kim Jong Un saat mengunjungi fasilitas nuklir Korut (Foto: AFP)
Jakarta -

Korea Utara (Korut) geram dan menuduh Jepang melakukan "provokasi serius" setelah Tokyo menguraikan penolakannya terhadap program nuklir Pyongyang dalam sebuah dokumen diplomatik tahunan.

Kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik formal. Pyongyang sering mengkritik Tokyo atas pemerintahan kolonialnya di Semenanjung Korea, yang berakhir dengan Perang Dunia II.

Kementerian Luar Negeri Jepang merilis buku biru tahunannya pekan lalu, yang merinci pandangan diplomatik resmi Tokyo dan mengulangi penentangannya terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh Korea Utara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Posisi tersebut merupakan provokasi serius yang melanggar hak kedaulatan, kepentingan keamanan, dan hak pembangunan negara suci kami," kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang tidak disebutkan namanya, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi Korut, KCNA, dilansir kantor berita AFP, Rabu (15/4/2026).

"Langkah-langkah Korea Utara untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya... termasuk dalam hak untuk membela diri," imbuh pernyataan itu.

Pernyataan itu menyebut dokumen diplomatik tahunan Jepang itu "dibuat dengan logika dan absurditas ala gangster konvensional".

Korea Utara bersikeras bahwa mereka tidak akan melepaskan persenjataan nuklirnya, menggambarkan jalan yang ditempuhnya sebagai "tidak dapat diubah" dan berjanji untuk memperkuat kemampuannya.

Dalam dokumen diplomatik tahunannya, Jepang juga menyatakan kekhawatirannya bahwa Korea Utara telah mengirim pasukan dan amunisi ke Rusia untuk membantu perang melawan Ukraina.

Tokyo juga menurunkan penilaiannya terhadap China untuk pertama kalinya dalam satu dekade, dengan menyebut Beijing sebagai "tetangga penting" alih-alih "salah satu mitra terpenting Jepang".

Hal ini menandai memburuknya hubungan dengan Beijing sejak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengindikasikan pada bulan November lalu, bahwa Tokyo dapat melakukan intervensi militer, jika terjadi serangan terhadap Taiwan.

Diketahui bahwa China memandang Taiwan sebagai wilayahnya dan tidak mengesampingkan kemungkinan merebutnya dengan kekerasan.

Lihat juga Video: Jepang Kecam Uji Coba Rudal Balistik Korut

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait