ASEAN Desak AS-Iran Segera Akhiri Perang dan Buka Selat Hormuz

ASEAN Desak AS-Iran Segera Akhiri Perang dan Buka Selat Hormuz

Farih Maulana Sidik - detikNews
Selasa, 14 Apr 2026 02:25 WIB
National flags of countries who are member of AEC (ASEAN economic community) on blue sky background
Foto: Getty Images/Aj_OP
Manila -

Negara-negara ASEAN mendorong Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk melanjutkan perundingan guna mengakhiri perang di Timur Tengah. ASEAN juga mendesak agar AS dan Iran segera memastikan jalur pelayaran aman di Selat Hormuz.

Dilansir AFP, Senin (13/4/2026), negara-negara Asia Tenggara seperti Filipina dan Malaysia sangat bergantung pada minyak dari Timur Tengah, yang sebagian besar diekspor melalui Selat Hormuz yang secara efektif ditutup selama konflik AS-Israel dengan Iran.

Para menteri luar negeri dari 11 negara anggota ASEAN bertemu secara daring untuk membahas perang AS-Israel melawan Iran, beberapa jam sebelum Angkatan Laut AS akan memulai blokade pelabuhan Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade jalur utama perdagangan minyak melalui laut setelah negosiasi gagal antara AS-Iran di Pakistan, karena apa yang dikatakan Trump sebagai penolakan Iran untuk meninggalkan ambisinya mengembangkan senjata nuklir.

Para menteri luar negeri ASEAN sepakat untuk mendesak AS dan Iran untuk "melanjutkan negosiasi yang akan mengarah pada pengakhiran konflik secara permanen dan perdamaian serta stabilitas yang langgeng di kawasan tersebut,".

Mereka juga menyerukan "implementasi penuh dan efektif" dari gencatan senjata dua minggu yang sedang berlangsung dan "pemulihan jalur transit kapal dan pesawat yang aman, tanpa hambatan, dan berkelanjutan di Selat Hormuz".

Menurut Badan Energi Internasional, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melalui laut melewati Selat Hormuz, dan 80 persen di antaranya menuju pasar Asia.

Filipina, yang memegang jabatan ketua bergilir ASEAN, bulan lalu menerapkan sistem kerja empat hari seminggu untuk pegawai negeri sipil dalam upaya menghemat bahan bakar. Sementara Malaysia, Thailand, dan Vietnam mendorong pegawai negeri untuk bekerja dari rumah.

(fas/jbr)


Berita Terkait