Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Pakistan gagal. AS dan Iran pun saling melempar tudingan.
Sebagai informasi, AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu menyebabkan gugurnya Ayatollah Ali Khamenei yang saat itu menjabat Pemimpin tertinggi Iran.
Iran langsung membalas dengan menyerang Israel dan berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk. Perang telah menyebabkan 2.076 orang tewas dan 26.500 orang terluka di Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, serangan balasan Iran telah menewaskan 26 orang dan melukai 7.451 orang di Israel. Serangan balasan Iran juga menewaskan 13 tentara AS dan melukai 200 tentara AS.
Dilansir CNN, Minggu (12/4/2026), Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan maraton dengan Iran tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen.
"Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya," kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad.
Namun, katanya, kedua negara tak mencapai kesepakatan apa pun. Dia menyebutnya sebagai kabar buruk buat Iran.
"Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan," ujarnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menggambarkan perundingan tersebut berlangsung intensif, tetapi dia mengatakan keberhasilan negosiasi yang sedang berlangsung 'bergantung pada keseriusan dan itikad baik dari pihak lawan'.
Baqaei juga menyerukan kepada Washington untuk menahan diri dari 'tuntutan yang berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum'. Dia meminta AS menerima 'hak dan kepentingan sah' Iran.
Di antara topik yang menurutnya sedang dibahas adalah Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan pengakhiran total perang di Iran.
AS Tuding Iran Tolak Kesepakatan Soal Pengembangan Nuklir
Sementara itu dilansir Al-Jazeera, AS menuding Iran tak membuat kesepakatan terkait pengembangan nuklir. Hal itu disampaikan Wapres AS JD Vance saat ditanya apa saja yang ditolak oleh Iran. Dia tak menjawab detail, namun menyebut Iran tak memberi jaminan tidak akan membuat senjata nuklir.
"Faktanya adalah kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mengembangkan senjata nuklir, dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir. Itulah tujuan utama presiden Amerika Serikat, dan itulah yang telah kami coba capai melalui negosiasi ini," katanya.
Dia mengatakan Iran punya program nuklir. Menurutnya, AS ingin Iran berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir di masa depan.
"Sekali lagi, program nuklir mereka, seperti apa adanya, fasilitas pengayaan yang mereka miliki sebelumnya, telah dihancurkan. Tetapi pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang, bukan hanya dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang? Kita belum melihatnya. Kami berharap akan melihatnya," ujarnya.
Dia menyebut Iran belum bersedia menerima syarat dari AS. Dia mengaku telah bersikap fleksibel sesuai perintah Presiden AS Donald Trump.
"Kita belum bisa mencapai situasi di mana Iran bersedia menerima persyaratan kita. Saya pikir kita cukup fleksibel; kita cukup akomodatif. Presiden mengatakan kepada kami, 'Kalian harus datang ke sini dengan iktikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan'. Kami melakukan itu, dan sayangnya, kami tidak mampu mencapai kemajuan apa pun," ucapnya.
Iran Tuding AS Cari-cari Alasan
Kantor berita Fars Iran melaporkan jalan menuju kesepakatan bergantung pada perubahan tuntutan AS yang dianggap Iran tidak masuk akal. Urusan Selat Hormuz merupakan salah satu dari beberapa isu kontroversial yang perlu diselesaikan.
Kantor berita tersebut mengatakan para ahli dari kedua belah pihak sedang berupaya menemukan titik temu dan bahwa 'mediator Pakistan sedang berusaha untuk menyelesaikan perbedaan dan mendekatkan pendapat'.
Kedua tim negosiasi telah mundur untuk berkonsultasi dengan tim ahli masing-masing mengenai teks yang diusulkan. Pembicaraan disebut akan dilanjutkan setelah draf tersebut siap.
Sumber yang dekat dengan delegasi Iran menyebut AS menuntut 'segala sesuatu yang tidak dapat mereka peroleh' dari perang selama pembicaraan di Islamabad. Kantor berita tersebut juga mengutip korespondennya di ibu kota Pakistan yang mengatakan 'Iran tidak menerima syarat-syarat ambisius Amerika mengenai Selat Hormuz, energi nuklir damai, dan beberapa isu lainnya'.
Sumber tersebut juga mengatakan kepada kantor berita Fars bahwa AS 'sedang mencari alasan' untuk meninggalkan meja perundingan.
"Amerika membutuhkan perundingan untuk memperbaiki citra mereka yang hilang di arena internasional dan tidak bersedia menurunkan ekspektasi mereka meskipun kalah dan mengalami kebuntuan dalam perang dengan Iran. Iran tidak memiliki rencana untuk putaran pembicaraan selanjutnya," ujar sumber tersebut.
Lihat juga Video: Iran Tantang Balik Ancaman Trump Blokade Selat Hormuz











































