Xi Jinping Yakin China dan Taiwan Akan Bersatu

Xi Jinping Yakin China dan Taiwan Akan Bersatu

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 10 Apr 2026 17:36 WIB
Presiden China Xi Jinping (dok. REUTERS/Leah Millis/Pool)
Presiden China Xi Jinping (dok. REUTERS/Leah Millis/Pool)
Beijing -

Presiden China Xi Jinping melakukan pertemuan dengan pemimpin partai oposisi Taiwan, Cheng Li-wun yang berkunjung ke Beijing pada Jumat (10/4). Dalam pertemuan itu, Xi mengatakan dirinya memiliki "keyakinan penuh" bahwa rakyat Taiwan dan China akan bersatu.

Cheng yang menjabat sebagai ketua partai Kuomintang (KMT), seperti dilansir AFP, Jumat (10/4/2026), menjadi pemimpin partai pertama asal Taiwan yang mengunjungi China dalam satu dekade terakhir. Namun, kunjungannya ini memicu perdebatan di Taiwan, dengan para pengkritik menuduhnya terlalu pro-Beijing.

China memutuskan kontak tingkat tinggi dengan Taiwan sejak tahun 2016, setelah Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokratik memenangkan kursi kepresidenan, dan menolak klaim Beijing soal Taiwan bagian dari wilayah kedaulatan China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pertemuan pada Jumat (10/4) waktu setempat, Xi mengatakan kepada Cheng bahwa "tren umum warga negara di kedua sisi Selat (Taiwan) yang semakin dekat, semakin mendekat, dan bersatu tidak akan berubah".

"Ini adalah bagian tak terhindarkan dari sejarah. Kami memiliki keyakinan penuh akan hal ini," kata Xi selama pembicaraan dengan Cheng yang disiarkan oleh media Taiwan.

Cheng mengatakan kepada Xi bahwa dirinya berharap Selat Taiwan "tidak lagi menjadi titik fokus potensi konflik".

"Kedua belah pihak harus melampaui konfrontasi politik... dan mencari solusi sistemik untuk mencegah dan menghindari perang, sehingga Selat Taiwan dapat menjadi model penyelesaian konflik secara damai di dunia," cetusnya.

China telah bersumpah untuk merebut Taiwan dan tidak mengesampingkan penggunaan kekerasan, meningkatkan tekanan militer di sekitar pulau yang memiliki pemerintahan demokratis sendiri itu dalam beberapa tahun terakhir.

Beijing mengerahkan jet tempur dan kapal perang ke dekat Taipei hampir setiap hari, serta menggelar latihan militer skala besar secara teratur.

Hubungan lintas selat semakin memburuk, terutama sejak terpilihnya Lai Ching-te, pengganti Tsai, yang dianggap oleh China sebagai separatis.

Dalam pernyataan via Facebook pada Jumat (10/4), Lai mengatakan bahwa "ancaman militer China di dalam dan sekitar Selat Taiwan dan kepulauan tersebut telah sangat merusak perdamaian dan stabilitas regional".

Cheng mendarat di Shanghai pada Selasa (7/4) malam, dan segera setelah kedatangannya, dia mengatakan bahwa "kedua sisi Selat Taiwan tidak ditakdirkan untuk berperang, seperti yang dikhawatirkan oleh komunitas internasional".

Tonton juga video "China Beri Rp 3,3 M untuk Ortu Korban Pengeboman Sekolah di Iran"

Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)


Berita Terkait