Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menginstruksikan semua unit militer negaranya untuk berhenti menyerang setelah gencatan senjata disepakati selama dua minggu dengan Amerika Serikat (AS). Namun Mojtaba juga memperingatkan bahwa gencatan senjata itu "bukanlah akhir dari perang".
Pernyataan Khamenei itu, seperti dilansir NDTV dan Hindustan Times, Rabu (8/4/2026), disampaikan oleh stasiun penyiaran milik negara, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), setelah AS dan Iran mengumumkan mereka menyetujui gencatan senjata selama dua minggu, dalam perundingan yang dimediasi Pakistan.
"Ini bukanlah akhir dari perang, tetapi semua cabang militer harus mematuhi perintah Pemimpin Tertinggi dan menghentikan tembakan mereka," kata Mojtaba Khamenei dalam pernyataannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran secara terpisah menyampaikan peringatan serupa, dengan mengatakan bahwa "jari kami tetap berada di pelatuk" yang mengisyaratkan Teheran siap menyerang jika musuh bertindak dengan cara apa pun.
"Ditekankan bahwa ini tidak menandakan berakhirnya perang," sebut Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dalam pernyataan yang dirilis usai pengumuman gencatan senjata dengan AS.
"Jari kita tetap berada di pelatuk, dan jika kesalahan sekecil apa pun dilakukan oleh musuh, itu akan ditanggapi dengan kekuatan penuh," tegas Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Pernyataan Mojtaba, yang diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan AS dan Israel pada akhir Februari lalu, dirilis saat dia dilaporkan dalam kondisi tidak sadarkan diri dan sedang menjalani perawatan medis darurat di kota Qom, Iran.
Kondisinya memicu keraguan serius tentang siapa sebenarnya yang memimpin Iran saat perang berkecamuk melawan AS dan Israel beberapa pekan terakhir.
Menurut laporan The Times of India, yang mengutip memo diplomatik dan penilaian intelijen AS-Israel, pemimpin tertinggi Iran yang berusia 56 tahun itu dalam kondisi "parah" dan "tidak dapat terlibat dalam pengambilan keputusan apa pun oleh rezim" Teheran.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa Teheran "hanya akan menerima berakhirnya perang setelah detail diselesaikan dalam negosiasi, dengan syarat diterimanya prinsip-prinsip yang tercantum dalam rencana 10 poin tersebut".
Istilah "rencana 10 poin" merujuk pada proposal berisi 10 poin yang diajukan Iran sebagai dasar negosiasi dengan AS. Proposal itu merupakan revisi dari proposal 15 poin yang sebelumnya diajukan Washington kepada Teheran, dalam upaya mewujudkan gencatan senjata untuk perang yang berkecamuk enam minggu ini.
Rencana 10 poin yang diajukan Iran itu mengatur berbagai poin fundamental, mulai dari pengendalian lalu lintas di Selat Hormuz, penarikan pasukan AS dari semua posisi di kawasan, hingga pembayaran penuh kompensasi kepada Iran dan pencabutan semua sanksi primer serta sekunder terhadap Teheran.
Iran mengonfirmasi perundingan lanjutan dengan AS akan digelar di Islamabad pada Jumat (10/4) mendatang, dan akan berlangsung selama dua minggu saat gencatan senjata diberlakukan. Batas waktu itu bisa diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
Tonton juga video "Dubes Iran untuk PBB: Selat Hormus Takkan Ditutup, Tapi"











































