Rakyat Iran Diminta Jadi Perisai Manusia Lawan Ancaman Trump

Rakyat Iran Diminta Jadi Perisai Manusia Lawan Ancaman Trump

Haris Fadhil - detikNews
Selasa, 07 Apr 2026 20:03 WIB
Rakyat Iran Diminta Jadi Perisai Manusia Lawan Ancaman Trump
Kerusakan di Iran akibat serangan AS-Israel (Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS)
Teheran -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengebom pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Rakyat Iran pun diminta bersiap menghadapi ancaman itu.

Otoritas Iran, seperti dilansir NDTV, Selasa (7/4/2026), dilaporkan menyerukan kepada kaum muda Iran untuk secara simbolis membentuk perisai 'rantai manusia' di sekitar pembangkit listrik utama di negara Syiah tersebut. Kementerian Olahraga dan Pemuda Iran menyerukan pemuda negara tersebut, termasuk para atlet, seniman, dan mahasiswa, untuk berkumpul di sekitar lokasi tersebut mulai Selasa (7/4) siang.

Trump sendiri memberi batas waktu bagi Iran untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata atau menghadapi serangan besar-besaran terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur penting lainnya. Dia menuntut Teheran melepaskan senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz, yang ditutup gara-gara serangan AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump telah menetapkan tenggat waktu pada Selasa (7/4) malam, sekitar pukul 20.00 Eastern Time waktu AS. Tenggat waktu itu jatuh pada Rabu (8/4) dini hari, sekitar pukul 03.30 waktu Iran.

"Aksi ini (rantai manusia) dibentuk atas saran para pemuda sendiri," kata Wakil Menteri Urusan Pemuda Iran, Alireza Rahimi, dalam sebuah pesan video.

"Sejumlah pemuda universitas, seniman muda, dan organisasi-organisasi pemuda mengusulkan agar kita membentuk lingkaran manusia atau rantai manusia di sekitar pembangkit listrik milik negara," ujarnya.

Rahimi menyebut aksi tersebut sebagai 'aksi simbolis' untuk masa depan Iran. Dia mengatakan pemuda Iran punya komitmen melindungi negaranya.

"Aksi simbolis ini disebut 'Rantai Manusia Pemuda Iran untuk Masa Depan yang Cerah'. Kami berharap dengan partisipasi kaum muda di seluruh negara ini, rantai manusia ini akan terbentuk di sekitar pembangkit-pembangkit listrik, dan hal itu akan menjadi tanda komitmen kaum muda untuk melindungi infrastruktur negara dan membangun masa depan yang cerah," ucap Rahimi dalam pesan videonya.

Dilansir BBC, warga Iran juga mulai bereaksi terhadap ancaman Trump yang bertekad menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz. Para pejabat Iran telah mengejek tenggat waktu yang disampaikan Trump.

Seorang ajudan Oresiden Iran menyebut 'hinaannya dan omong kosongnya' lahir dari 'keputusasaan dan kemarahan semata'.

BBC juga berbicara dengan sejumlah warga Iran yang semuanya menentang pemerintahan saat ini, meski sangat sulit menghubungi orang di dalam negeri akibat pemadaman internet yang diberlakukan otoritas lebih dari lima minggu lalu. Demi keselamatan mereka, nama-namanya telah disamarkan.

"Rasanya seperti kami tenggelam semakin dalam ke rawa-rawa. Apa yang bisa kami lakukan sebagai orang biasa? Kami tidak bisa melakukan apa-apa. Kami tidak bisa menghentikannya (Trump). Saya terus membayangkan sebuah skenario di mana, sebulan lagi, saya duduk bersama keluarga tanpa air, tanpa listrik, tanpa apa-apa. Lalu seseorang meniup lilin dan kami pun tidur," kata Kasra, pemuda berusia 20-an yang tinggal di Teheran.

Sementara, televisi pemerintah Iran menayangkan video toko-toko kelontong yang penuh stok. BBC mendengar kabar bahwa sebagian warga mulai menimbun persediaan dan khawatir pasokan air juga akan terganggu.

"Ibu saya mengisi setiap botol yang bisa dia temukan di rumah dengan air. Saya tidak tahu apa yang akan kami lakukan sekarang. Saya pikir semakin banyak orang di Iran yang menyadari bahwa Trump sama sekali tidak peduli pada mereka. Saya membencinya dari lubuk hati terdalam, dan juga membenci mereka yang mendukungnya," kata Mina, yang juga berusia 20-an dan berasal dari Teheran.

Pada Januari lalu, ketika demonstrasi antipemerintah yang mematikan melanda Iran, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan" bagi para demonstran.

Namun dia tidak turun tangan ketika pasukan keamanan Iran melancarkan penindakan besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya, menewaskan sedikitnya 6.508 orang dan menangkap 53.000 lainnya, menurut Human Rights Activists News Agency (Hrana) yang berbasis di AS.

Sebagian warga yang diwawancarai BBC awalnya melihat serangan AS-Israel sebagai bentuk bantuan yang dijanjikan. Tapi kini, kebanyakan dari mereka menilai serangan terhadap infrastruktur energi sebagai garis merah.

"Saya sudah berterima kasih kepada Israel dan AS atas hampir semua target yang mereka hancurkan sejauh ini. Mereka pasti punya alasan kuat untuk target-target itu. Tapi saya bersumpah, menghantam pembangkit listrik hanya akan melumpuhkan negara. Itu justru menguntungkan Republik Islam. Saya tinggal sekitar satu kilometer dari pembangkit listrik terbesar di Karaj, dan jika mereka menghantamnya, yang tersisa hanyalah penderitaan bagi saya," kata Arman, pemuda 20-an dari Karaj, sebelah barat Teheran.

Iran mengatakan lebih dari 30 universitas telah terkena dampaknya, termasuk Universitas Shahid Beheshti di Teheran. (EPA) Banyak dari mereka yang diwawancarai BBC mengaku khawatir akan dampak ekonomi dari perang.

"Saya pikir Trump takut dengan apa yang akan dilakukan Iran. Saya yakin Iran akan menyerang ke seluruh wilayah sebagai balasan. Bagi saya pribadi, saya sudah tidak punya rutinitas lagi, bahkan tidak bisa bekerja dengan kondisi sekarang karena saya seorang insinyur pengawas bangunan dan tidak ada yang membangun apa pun saat ini. Beberapa perusahaan kecil sudah mulai memberhentikan karyawan mereka," kata Bahman, pemuda berusia 20-an yang tinggal di Teheran.

Simak juga Video Trump Siapkan Serangan Baru ke Iran: Kita Bawa Mereka ke Zaman Batu

Halaman 2 dari 3
(haf/haf)


Berita Terkait