Menlu Iran Serukan PBB Bertindak Mengutuk Serangan AS-Israel

Menlu Iran Serukan PBB Bertindak Mengutuk Serangan AS-Israel

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 06 Apr 2026 11:29 WIB
Menlu Iran Abbas Araqchi (Foto: REUTERS/Mohamed Azakir/File photo Purchase Licensing Rights)
Menlu Iran Abbas Araqchi (Foto: REUTERS/Mohamed Azakir/File photo Purchase Licensing Rights)
Jakarta -

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi telah melakukan percakapan telepon dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov, dan membahas kejahatan sistematis yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap rakyat Iran selama 37 hari terakhir.

Dalam percakapan telepon pada hari Minggu (5/4) waktu setempat, Araghchi mengutuk serangan berulang AS dan Israel yang menargetkan infrastruktur industri dan produksi Iran, rumah sakit, sekolah, lingkungan perumahan, serta fasilitas nuklir dan pusat-pusat ilmiahnya.

Ia menekankan bahwa serangan-serangan barbar ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan norma-norma kemanusiaan dasar. Menlu Iran itu menuntut tindakan mendesak dari badan-badan internasional terkait, terutama Dewan Keamanan PBB dan Badan Energi Atom Internasional, untuk secara resmi mengutuk kejahatan tersebut dan membawa para agresor ke pengadilan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diplomat senior Iran itu juga menyinggung ancaman AS baru-baru ini terhadap fasilitas energi Iran, menyebut retorika provokatif tersebut sebagai pengakuan terbuka atas niat untuk melakukan kejahatan perang.

ADVERTISEMENT

Dilansir media Iran, Press TV, Senin (6/4/2026), Araghchi mendesak semua anggota berpengaruh Dewan Keamanan PBB untuk mengambil posisi bertanggung jawab yang berakar pada hukum internasional, dan untuk memblokir setiap upaya Amerika Serikat untuk menyalahgunakan Dewan Keamanan PBB sebagai instrumen untuk agenda ilegalnya.

Sementara itu, Menlu Rusia menegaskan kembali sikap konsisten Moskow dalam mengutuk keras agresi militer AS dan Israel terhadap Iran.

Lavrov menekankan pentingnya segera menghentikan serangan ilegal terhadap target sipil, khususnya pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, dan mendesak semua pihak untuk memanfaatkan setiap peluang diplomatik untuk mencegah perluasan dan penyebaran konflik.

Percakapan telepon Araghchi dengan Lavrov ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memperbarui ancamannya untuk melepaskan "neraka" pada Iran, jika negara itu terus menutup Selat Hormuz, dengan mengatakan AS akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan negara tersebut.

Lihat juga Video 'Tokoh Agama Sebut Prajurit TNI Gugur di Lebanon Syuhada':

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads