Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampak berupaya meremehkan ketergantungan AS pada Selat Hormuz dalam pidato terbarunya membahas perang Iran. Trump mengklaim bahwa AS "tidak membutuhkan" Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan penting bagi pasokan energi global.
Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global, terdampak oleh perang berkelanjutan antara AS dan Israel melawan Iran. Aktivitas perlintasan di jalur perairan penting itu telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret lalu.
Hal tersebut membuat banyak negara menanggung dampak terberat dari gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Trump, seperti dilansir CNN, Kamis (2/4/2026), mengatakan bahwa AS tidak begitu membutuhkan Selat Hormuz.
"Amerika Serikat hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan mengimpornya dari sana di masa mendatang. Kita tidak membutuhkannya," kata Trump dalam pidato terbarunya membahas perang melawan Iran yang disampaikan di Gedung Putih pada Rabu (1/4) malam.
Dengan mencatat bahwa AS merupakan pemimpin dunia dalam produksi minyak dan gas, Trump mengklaim negaranya terlindungi dari guncangan pasokan yang dipicu oleh perang. Pernyataan itu, sebut CNN, akan sulit diterima oleh banyak warga AS karena mereka merasakan dampak kenaikan harga bensin yang melampaui US$ 4 per galon untuk pertama kalinya sejak tahun 2022.
Pernyataan Trump itu juga dinilai mengabaikan bagaimana perang, yang dimulai oleh AS dan Israel, telah mengacaukan pasar dan ekonomi global, menyebabkan banyak sekutu Washington di Asia dan Eropa menanggung dampaknya.
Selat Hormuz dilintasi oleh 20 persen konsumsi minyak dunia, dengan sebagian besar minyak mentah yang diangkut melintasi selat itu berakhir di Asia, yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas dari negara-negara Teluk.
Sejak perang dimulai pada akhir Februari, menurut perusahaan intelijen maritim Kpler, perlintasan di Selat Hormuz telah anjlok sekitar 95 persen, dengan dampaknya dirasakan di seluruh pasar energi global.
"Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut... Kita akan membantu, tetapi mereka harus memimpin dalam melindungi minyak yang sangat mereka andalkan," ucap Trump dalam pidatonya.
Trump juga mengklaim bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali "secara alami" setelah perang berakhir, dan bahwa "harga gas akan segera turun kembali" -- pernyataan yang telah dibantah oleh para ekonom dan analis.
Dengan infrastruktur energi di kawasan tersebut mengalami kerusakan dan adanya gangguan pasokan berkepanjangan, para analis telah memperingatkan bahwa harga minyak global kemungkinan akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang sama, bahkan jika perang segera berakhir.
Trump, dalam pidatonya, juga mengatakan bahwa perang melawan Iran "hampir selesai", dengan tujuan-tujuan AS hampir tercapai. Trump juga memuji pasukan militer AS yang disebutnya "meraih kemenangan luar biasa".
Namun Trump juga memberikan sinyal bahwa AS siap untuk mengintensifkan respons militernya terhadap Iran selama 2-3 pekan ke depan, dan mencetuskan akan membombardir Iran hingga kembali ke "Zaman Batu".
Saksikan Live DetikSore :
Tonton juga video "Lagi-lagi Trump Ngomel soal NATO: Mereka Cuma Macan Kertas"











































