Tentang Posisi China di Tengah Perang AS vs Iran

Tentang Posisi China di Tengah Perang AS vs Iran

Haris Fadhil - detikNews
Jumat, 27 Mar 2026 22:13 WIB
Tentang Posisi China di Tengah Perang AS vs Iran
Ilustrasi bendera China (Foto: Daniel Berehulak/Getty Images)
Jakarta -

Perang yang disebabkan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah mengganggu aliran minyak dan gas dunia hingga menyebabkan pemerintah di Asia Tenggara kelabakan. Kini, China mencoba mengambil peran dari masalah itu.

"China bersedia memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara untuk bersama-sama mengatasi masalah keamanan energi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lin Jian, dalam konferensi pers pekan lalu seperti dilansir DW, Jumat (27/3/2026).

Sejauh ini, negara-negara di Asia Tenggara menerapkan berbagai langkah penghematan energi dan subsidi. Negara-negara di kawasan ini juga berlomba mencari pemasok dan jalur perdagangan alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, negara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam yang merupakan produsen dan eksportir minyak dan gas tetap rentan terhadap inflasi serta gangguan rantai pasok di kawasan Asia Barat. Sementara, pada 24 Maret 2026, Filipina telah menetapkan status darurat energi nasional selama 1 tahun.

Filipina mengeluarkan peringatan adanya 'bahaya yang mengancam' terhadap pasokan energi. Pemerintah di Manila juga telah menerapkan sistem kerja 4 hari bagi kantor pemerintahan serta membatasi penggunaan energi.

ADVERTISEMENT

Filipina menyalurkan bantuan tunai bagi pekerja transportasi. Filipina juga memperingatkan kekurangan bahan bakar pesawat dapat membuat sebagian armada tidak beroperasi.

Vietnam juga mengambil langkah menghadapi krisis energi. Vientam telah menggunakan dana stabilisasi harga energi dan meminta maskapai bersiap menghadapi pemangkasan operasional, sementara para importir memperingatkan bahwa pasokan avtur hanya aman hingga Maret 2026.

Indonesia berjanji akan menahan sebagian dampak melalui anggaran negara dan peningkatan subsidi. Thailand mempertimbangkan bantuan tambahan seiring lonjakan harga solar yang memukul sektor seperti perikanan. Malaysia juga meningkatkan subsidi untuk menjaga harga bahan bakar tetap stabil.

Krisis tersebut membuat pemerintah di Asia Tenggara mencari pasokan sementara dari luar kawasan Semenanjung Arab. Berdasarkan laporan Reuters pekan lalu, Asia diperkirakan mengimpor volume bahan bakar Rusia terbesar pada Maret 2026, dengan Asia Tenggara sebagai penerima terbesar.

China Mau Tampil Jadi 'Penyelamat'

Profesor madya di S Rajaratnam School of International Studies Singapura, Li Mingjiang, menilai China sedang memanfaatkan krisis ini untuk 'menampilkan diri sebagai aktor yang bertanggung jawab dan penstabil'. Dia menyebut China telah menyerukan deeskalasi di Timur Tengah serta berjanji bekerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara untuk mengatasi kekurangan energi.

Akademisi Lee Kuan Yew School of Public Policy, Chin-Hao Huang, menilai Beijing juga sejalan dengan sikap umum negara-negara Asia Tenggara terkait Iran, yakni mendorong diplomasi. Seperti negara di kawasan, pemerintah China ingin Selat Hormuz segera dibuka kembali sambil tetap berhati-hati agar tidak terseret langsung dalam konflik.

"Sejauh ini, respons publik China adalah menyerukan penahanan diri, gencatan senjata, dan dialog, ini merupakan titik temu bagi sebagian besar pemerintah di Asia Tenggara," kata Huang.

Krisis ini juga memperkuat narasi China adalah kekuatan besar yang membela perdamaian, perdagangan bebas, dan multilateralisme, sekaligus memposisikan diri berseberangan dengan Amerika Serikat yang dianggap agresif.

"Intervensi militer AS-Israel di Iran sangat tidak populer di sejumlah negara Asia Tenggara. China bahkan tidak perlu melakukan apa pun agar citra AS semakin memburuk di kawasan," kata profesor madya di University of Hong Kong, Enze Han.

"Lonjakan harga gas di banyak negara juga memperburuk citra Amerika Serikat. Sekali lagi, Beijing tidak perlu melakukan apa pun agar kesalahan diarahkan ke AS," tambahnya.

Meski demikian, mendekat ke China tidak menjamin stabilitas energi bagi negara-negara Asia. Beijing sendiri telah membatasi ekspor bahan bakar untuk melindungi pasokan domestiknya.

Pada 18 Maret, Kamboja menyatakan pembatasan ekspor dari China dan Vietnam telah memaksa mereka mencari pemasok alternatif dan bersiap menghadapi kekurangan energi di dalam negeri. Dalam jangka panjang, krisis ini berpotensi memperkuat posisi China di Asia Tenggara.

Guncangan energi telah mendorong kekhawatiran atas ketergantungan pada minyak Timur Tengah. Kondisi ini meningkatkan daya tarik energi terbarukan yang merupakan sektor di mana perusahaan China sangat kompetitif.

China telah terlibat dalam transisi energi hijau di Asia Tenggara. Perusahaan-perusahaan China termasuk investor terbesar dalam industri kendaraan listrik dan baterai di kawasan. Beijing juga menjadi pendana utama proyek pembangkit listrik tenaga air dan ladang surya besar di Asia Tenggara daratan.

Berbicara dalam Forum Boao di China, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengatakan China dapat 'memainkan peran penting' dalam menentukan arah global dan 'peran yang lebih besar dalam mendukung kemakmuran dan stabilitas kawasan' seraya mendorong Beijing tetap menjadi pendukung perdagangan terbuka berbasis aturan.

Wong juga menekankan ASEAN perlu bekerja sama dengan China dalam pengembangan energi terbarukan dan jaringan listrik regional. Jika perang Iran mendorong Asia Tenggara mengurangi ketergantungan pada minyak, China berpotensi diuntungkan, tidak hanya dari krisis saat ini, tetapi juga dari respons strategis kawasan ke depannya.

Simak juga Video 'Rusia-China Kecam Serangan ke Iran: Langgar Hukum Internasional':

Halaman 2 dari 4
(haf/haf)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads