Italia, Jerman dan Prancis Mau Bantu di Selat Hormuz Asal Gencatan Senjata

Italia, Jerman dan Prancis Mau Bantu di Selat Hormuz Asal Gencatan Senjata

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Jumat, 20 Mar 2026 10:37 WIB
FILE PHOTO: An aerial view of the Iranian shores and the island of Qeshm in the strait of Hormuz, December 10, 2023. REUTERS/Stringer/File Photo
Potret Selat Hormuz. (REUTERS/Nicolas Economou)
Jakarta -

Enam kekuatan internasional utama mengatakan bahwa mereka siap berkontribusi untuk memastikan jalur aman melalui Selat Hormuz di tengah konflik Timur Tengah. Namun, tiga negara di antaranya menekankan bahwa inisiatif apa pun akan dilakukan setelah gencatan senjata.

Dilansir AFP, Jumat (20/3/2026), Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Belanda mengatakan pada Kamis (19/3), bahwa mereka siap "berkontribusi pada upaya yang tepat untuk memastikan jalur aman melalui Selat Hormuz".

Kelompok tersebut mengatakan mereka "menyambut baik komitmen negara-negara yang terlibat dalam perencanaan persiapan", dan mereka mengutuk "dengan keras serangan baru-baru ini oleh Iran terhadap kapal-kapal komersial tak bersenjata di Teluk".

Namun Italia, Jerman, dan Prancis kemudian menjelaskan pada Kamis (19/3) bahwa mereka tidak berbicara tentang bantuan militer langsung, melainkan inisiatif multilateral potensial setelah gencatan senjata.

Deklarasi tersebut muncul ketika blokade Iran yang efektif terhadap selat tersebut telah melumpuhkan pengiriman komersial melalui titik penting maritim tersebut, yang pada masa damai dilewati seperlima dari minyak mentah dan gas alam cair global.

Perang yang meletus pada 28 Februari ketika Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai membombardir Iran, telah menyebabkan Teheran membalas dengan serangan di seluruh wilayah Teluk. Dua puluh tiga kapal komersial, termasuk 10 kapal tanker, telah melaporkan insiden atau telah diserang.

Situasi ini telah menyebabkan sekitar 20.000 pelaut terdampar di sekitar 3.200 kapal di sebelah barat selat, menurut Organisasi Maritim Internasional.

"Kami menyatakan keprihatinan mendalam kami tentang meningkatnya konflik," kata pernyataan bersama sekutu tersebut.

"Kami menyerukan kepada Iran untuk segera menghentikan ancaman, pemasangan ranjau, serangan drone dan rudal, serta upaya lain untuk memblokir Selat bagi pelayaran komersial," tambahnya.

"Kebebasan navigasi adalah prinsip fundamental hukum internasional, termasuk di bawah Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut."

"Dampak dari tindakan Iran akan dirasakan oleh orang-orang di seluruh dunia, terutama yang paling rentan."

Presiden AS Donald Trump telah mendesak kekuatan dunia lainnya, dan NATO, untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial. Namun mereka menolak seruannya dalam jangka pendek sambil bersikeras bahwa mereka terbuka untuk diskusi dan perencanaan.

Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto mengatakan pernyataan dari enam negara tersebut tidak boleh dilihat sebagai "misi perang".

"Tidak ada masuk ke Hormuz tanpa gencatan senjata dan inisiatif multilateral yang komprehensif", yang mana "adalah tepat dan pantas bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menyediakan kerangka hukum", katanya dalam sebuah pernyataan.

Dan di Berlin, Menteri Pertahanan Boris Pistorius mengatakan bahwa keterlibatan militer Jerman apa pun "akan bergantung pada situasi setelah gencatan senjata... dan apakah kita dapat berpartisipasi dalam kerangka mandat internasional".

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan kepada wartawan bahwa negaranya berencana untuk menjajaki kemungkinan pembentukan kerangka kerja PBB untuk rencana masa depan-setelah baku tembak yang sedang berlangsung berakhir-untuk mengamankan navigasi di Selat Hormuz.

"Kami telah memulai proses penjajakan, dan kita akan melihat dalam beberapa hari mendatang apakah ada peluang untuk berhasil," katanya di Brussels setelah KTT Eropa yang berlangsung pada Kamis (19/3).

Seorang pejabat pertahanan Inggris mengatakan kepada wartawan dalam sebuah pengarahan pada Rabu (18/3), bahwa "tingkat ancamannya sedemikian rupa sehingga saya tidak melihat banyak negara yang bersedia menempatkan kapal perang di tengah ancaman itu saat ini".

Pejabat pertahanan tersebut mencatat bahwa London telah mengirimkan "sejumlah kecil" "perencana" militer tambahan ke Komando Pusat AS untuk "membantu perencanaan dan pengembangan opsi untuk... apa pun yang akan terjadi selanjutnya di Selat Hormuz".

Simak Video 'Iran: Selat Hormuz Hanya Tertutup Bagi Musuh-musuh Kami!':

Halaman 2 dari 2
(rfs/imk)


Berita Terkait