Garda Revolusi Iran Ancam Respons Lebih Keras Jika Demo Muncul Lagi

Garda Revolusi Iran Ancam Respons Lebih Keras Jika Demo Muncul Lagi

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 13 Mar 2026 16:06 WIB
Ilustrasi -- Pasukan Garda Revolusi Iran (dok. AFP)
Ilustrasi -- Pasukan Garda Revolusi Iran (dok. AFP)
Teheran -

Garda Revolusi Iran, sayap ideologis militer negara tersebut, memperingatkan bahwa setiap unjuk rasa baru terhadap pemerintah Teheran akan disambut dengan respons yang lebih keras dibandingkan aksi protes antipemerintah yang marak pada Januari lalu, ketika ribuan orang tewas akibat penindakan brutal.

"Musuh jahat, yang gagal mencapai tujuan pertempuran di lapangan, sekali lagi berupaya menanamkan rasa takut dan mengobarkan kerusuhan jalanan," kata Garda Revolusi Iran dalam pernyataannya yang disiarkan televisi pemerintah, seperti dilansir AFP, Jumat (13/3/2026).

Dalam pernyataannya, Garda Revolusi Iran menjanjikan "pukulan yang lebih keras daripada pada 8 Januari lalu" jika terjadi kerusuhan baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peringatan ini disampaikan dua pekan setelah perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel berkecamuk. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa salah satu tujuannya adalah "menciptakan, bagi rakyat Iran, kondisi untuk menjatuhkan" pemerintah Iran.

Presiden AS Donald Trump juga menyerukan agar rakyat Iran bangkit dan menggulingkan pemerintah mereka.

Pada Desember tahun lalu, unjuk rasa marak di Iran untuk memprotes tingginya biaya hidup. Namun kemudian berubah menjadi gerakan protes yang luas terhadap pemerintah Teheran.

Puncak unjuk rasa terjadi pada 8 Januari, yang disebut pemerintah Iran sebagai "kerusuhan" yang dituduhkan kepada "teroris-teroris" yang beroperasi atas nama Israel dan AS.

Banyak demonstran tewas saat unjuk rasa berlangsung, yang diduga akibat penindakan brutal otoritas Teheran. Data resmi pemerintah Iran menyebut lebih dari 3.000 orang tewas, dengan pemerintah menyebut sebagai besar yang tewas merupakan personel pasukan keamanan atau warga sipil yang melintas di lokasi.

LSM yang berbasis di luar negeri menuduh pasukan keamanan Iran sengaja menembaki para demonstran.

Human Rights Activists News Agency, yang berbasis di AS, melaporkan lebih dari 7.000 orang tewas selama unjuk rasa antipemerintah marak di Iran awal tahun ini.

Lihat juga Video: Dubes Iran untuk PBB: Selat Hormus Takkan Ditutup, Tapi

Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)


Berita Terkait