5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 12 Mar 2026 18:53 WIB
Rudal Iran (Foto: REUTERS/Raneen Sawafta)
Rudal Iran (Foto: REUTERS/Raneen Sawafta)
Jakarta -

Laporan intelijen Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kepemimpinan Iran sebagian besar masih utuh dan tidak berisiko untuk tumbang dalam waktu dekat, setelah hampir dua minggu dibombardir tanpa henti oleh AS dan Israel. Hal ini diungkapkan oleh tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Laporan intelijen itu memberikan "analisis yang konsisten bahwa rezim tersebut tidak dalam bahaya untuk kolaps dan tetap mengendalikan publik Iran," kata salah satu sumber, dilansir kantor berita Reuters dan Al Arabiya, Kamis (12/3/2026).

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Kamis (12/3/2026):

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

- PM Malaysia Umumkan Tak Ada Open House Idul Fitri, Kunjungan LN Dipangkas

Pemerintah Malaysia mengambil langkah-langkah penghematan terkait potensi dampak perang yang berkecamuk antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Pemerintah Malaysia memutuskan untuk tidak akan mengadakan acara open house untuk Hari Raya Idul Fitri. Pemerintah juga akan mengurangi jumlah perjalanan ke luar negeri sebagai bagian dari penghematan dana mengingat dampak ekonomi dari perang di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan pemerintah dan perusahaan investasi yang terkait dengan pemerintah, juga telah diperintahkan untuk tidak mengadakan acara open house Idul Fitri.

Anwar mengatakan ini hanyalah langkah hati-hati untuk membelanjakan dana secara bijaksana, mengingat potensi dampak perang tersebut.

- DK PBB Serukan Iran Setop Serangan ke Negara-negara Teluk

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dk PBB) mengesahkan resolusi yang menyerukan Iran untuk segera menghentikan serangannya terhadap negara-negara Teluk. DK PBB mengatakan bahwa serangan tersebut melanggar hukum internasional dan menimbulkan "ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional."

Resolusi DK PBB tersebut disahkan pada hari Rabu (11/3) waktu setempat dengan 13 negara menyatakan setuju dan dua negara abstain. Resolusi itu "menuntut penghentian segera semua serangan oleh Republik Islam Iran terhadap Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania."

- 2 Kapal Tanker Minyak Diserang di Dekat Irak, 1 Orang Tewas

Timur Tengah terus memanas! Serangan terhadap dua kapal tanker minyak di dekat Irak menewaskan sedikitnya satu awak kapal.

Farhan Al-Fartousi, dari Perusahaan Umum Pelabuhan Irak, mengatakan kepada televisi pemerintah Irak, bahwa satu awak kapal telah tewas dan 38 orang diselamatkan, sementara "pencarian terus dilakukan untuk menemukan yang hilang."

Ia tidak menyebutkan kewarganegaraan awak kapal atau memberikan detail tentang siapa yang berada di balik serangan tersebut.

- Pasukan Quds Iran Akan Terus Lawan AS-Israel: Kami Akan Buka Pintu Api!

Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menjanjikan pembalasan tanpa henti atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang terus berlanjut. Quds bersumpah untuk "membuka pintu api bagi mereka dan tidak akan berhenti sampai musuh dikalahkan."

Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (11/3) waktu setempat, Pasukan Quds menyebut serangan AS-Israel terhadap Republik Islam itu yang dimulai pada 28 Februari lalu, sebagai pelanggaran hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan.

Mereka menekankan bahwa serangan tersebut telah menyebabkan wafatnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior Iran dan warga sipil Iran.

- Intelijen AS: Rezim Iran Kuat-Tak Akan Tumbang Meski Dibombardir

Laporan intelijen Amerika Serikat mengungkapkan bahwa kepemimpinan Iran sebagian besar masih utuh dan tidak berisiko untuk tumbang dalam waktu dekat, setelah hampir dua minggu dibombardir tanpa henti oleh AS dan Israel. Hal ini diungkapkan oleh tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Laporan intelijen itu memberikan "analisis yang konsisten bahwa rezim tersebut tidak dalam bahaya untuk kolaps dan tetap mengendalikan publik Iran," kata salah satu sumber, dilansir kantor berita Reuters dan Al Arabiya, Kamis (12/3/2026).

Laporan terbaru itu diselesaikan dalam beberapa hari terakhir, kata sumber tersebut. Dengan tekanan politik yang meningkat atas melonjaknya biaya minyak, Presiden Donald Trump telah mengisyaratkan bahwa ia akan mengakhiri operasi militer AS terbesar sejak 2003 itu "segera."

Lihat juga Video 'Iran Tak Izinkan 1 Liter Pun Minyak Lewati Selat Hormuz untuk AS':

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads